Showing posts with label al-fatihah. Show all posts
Showing posts with label al-fatihah. Show all posts

Tuesday, 12 April 2016

Tafsir Ibnu Katsir Bahasa Indonesia Surat al-Fatihah Ayat 7 | Tafsir Ibnu Katsir Indonesia

tafsir ibnu katsir bahasa indonesia
Tafsir Ibnu Katsir Bahasa Indonesia. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Surat al-Faatihah (7).

Al-Faatihah, Ayat 7

Shiraa-thal la-dziina an'amta 'alaihim ghairil magh-dhuubi 'alaihim wa ladh-dhaalliin
(Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. 1: 7)

Telah disebutkan dalam hadits sebelumnya bahwa apabila seorang hamba mengucapkan "ihdinash shiraa-thal mustaqiim" hingga akhir ayat, maka Allah berfirman: "Ini untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."

Firman Allah: "Shiraa-thal la-dziina an'amta 'alaihim" Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, adalah tafsir dari firman-Nya "shiraa-thal mustaqiim" (jalan yang lurus), dan merupakan badal menurut ahli nahwu dan boleh juga sebagai 'athaf bayan. Wallaahu a'lam.

Orang-orang yang diberikan nikmat oleh Allah 'Azza wa Jalla itu adalah mereka yang tersebut dalam surat an-Nisaa', Dia berfirman:

"Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(-Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu para Nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Semua itu adalah karunia dari Allah, dan Allah Maha Mengetahui." (QS. An-Nisaa': 69-70)

Dan firman-Nya, Ghairil magh-dhuubi 'alaihim wa ladh-dhaalliin "Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat." Maknanya, tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, yakni jalan orang-orang yang telah Engkau berikan nikmat kepada mereka. Yaitu mereka yang memperoleh hidayah, istiqamah, dan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, serta melaksanakan semua perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, bukan jalan orang-orang yang mendapat murka, yang kehendak mereka telah rusak, hingga meskipun mereka mengetahui kebenaran, namun mereka menyimpang darinya. Bukan pula jalan orang-orang yang sesat, yaitu mereka yang tidak memiliki ilmu, sehingga mereka berada dalam kesesatan serta tidak mendapatkan jalan menuju kebenaran.

Pembicaraan di sini dipertegas dengan kata "laa" (bukan), untuk menunjukkan bahwa di sini terdapat dua jalan yang rusak. Yaitu jalan orang-orang yahudi dan jalan orang-orang nashrani. Juga untuk membedakan antara kedua jalan itu, agar setiap orang menjauhkan diri darinya.

Jalan orang-orang yang beriman itu mencakup pengetahuan tentang kebenaran dan pengamalannya. Sementara orang-orang yahudi tidak memiliki amal. Adapun orang-orang nashrani tidak memiliki ilmu (agama). Oleh karena itu kemurkaan untuk orang-orang yahudi dan kesesatan untuk orang-orang nashrani. Karena orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya maka dia berhak mendapatkan kemurkaan, berbeda dengan orang yang tidak memiliki ilmu.

Sedangkan orang-orang nashrani, ketika mereka hendak melakukan sesuatu (tujuan mulia), mereka tidak memperoleh petunjuk kepada jalannya. Karena mereka tidak menempuhnya melalui jalan yang semestinya, yaitu mengikuti kebenaran. Maka masing-masing dari mereka sesat dan mendapatkan murka. Sifat kaum yahudi yang paling khusus adalah mendapat kemurkaan, sebagaimana firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala tentang mereka: "Yaitu orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah." (QS. Al-Maa-idah: 60)

Sedangkan sifat kaum nashrani yang paling khusus adalah kesesatan, sebagaimana firman Allah tentang diri mereka: "Orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Nabi Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus." (QS. Al-Maa-idah: 77)

Masalah ini banyak disebutkan dalam hadits serta atsar, dan hal itu sudah cukup jelas.

Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Adi bin Hatim ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Datanglah pasukan berkuda Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, lalu mereka menawan bibiku dan beberapa orang lainnya. Ketika pasukan membawa mereka ke hadapan Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, mereka berbaris di hadapan beliau. Bibiku berkata, 'Ya Rasulullah, utusan telah menjauh dan anak telah terputus. Sementara aku hanyalah wanita tua. Aku tidak mampu mengerjakan apa-apa. Lepaskanlah aku, semoga Allah memberkahimu.' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bertanya kepadanya: 'Siapakah utusanmu?' Ia menjawab: 'Adi bin Hatim!' Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Orang yang melarikan diri dari Allah dan Rasul-Nya?' Bibiku berkata: 'Bebaskanlah aku!' Ketika Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam kembali, seorang laki-laki yang berada di samping beliau sepertinya -sepertinya orang itu adalah 'Ali- berkata: 'Mintalah terus kepada beliau.' Bibiku berkata: 'Aku pun terus memintanya kepada beliau.' Akhirnya beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam membebaskannya. Lalu bibiku menemuiku, ia berkata: 'Sungguh engkau telah melakukan satu perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh ayahmu! Sungguh telah datang kepada beliau si fulan dan ia mendapat bagian dari beliau, lalu datang di fulan lainnya dan ia pun mendapat bagian dari beliau.' Maka aku pun mendatangi beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam, ternyata di sisi beliau ada seorang wanita dan beberapa anak kecil. Ia menyebutkan keakraban mereka dengan Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam." 'Adi berkata: "Barulah aku tahu bahwa beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam bukanlah seperti raja kisra atau kaisar. Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Hai 'Adi, apa yang menyebabkanmu lari ketika dikatakan 'Laa ilaaha illallaah'? Bukankah tidak ada ilah selain Allah? Apa yang membuatmu lari ketika dikatakan: 'Allaahu Akbar'. Adakah sesuatu yang lebih besar selain Allah 'Azza wa Jalla?'"

'Adi melanjutkan: "Maka aku pun masuk Islam dan aku lihat wajah beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam gembira. Beliau bersabda:

'Sesungguhnya orang yang dimurkai adalah yahudi dan orang yang sesat adalah nashrani.'

Kemudian ia menyebutkan kelanjutan hadits tersebut." Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata: "Hasan gharib." (68)

Dalam kitab sirah, diriwayatkan dari Zaid bin 'Amr bin Nufail bahwa ketika ia keluar bersama serombongan rekan-rekannya ke negeri Syam untuk mencari agama yang benar, orang-orang yahudi berkata kepada mereka: "Kalian tidak akan bisa masuk ke dalam agama kami sehingga kalian mengambil bagian kalian berupa kemarahan Allah."

Zaid berkata: "Justru kami ingin lari dari kemarahan Allah."

Orang-orang nashrani berkata kepadanya: "Kalian tidak akan bisa masuk ke dalam agama kami sehingga kalian mengambil bagian kalian berupa kemurkaan Allah."

Zaid berkata: "Aku tidak sanggup." Maka ia pun tetap berada di atas fitrahnya, ia menjauhi penyembahan berhala dan agama kaum musyrikin. Ia tidak masuk ke dalam agama yahudi maupun agama nashrani. Adapun rekan-rekannya masuk agama nashrani dan menjadi penganutnya. Karena mereka mendapati agama nashrani lebih dekat kepada kebenaran daripada agama yahudi ketika itu. Di antara mereka adalah Waraqah bin Naufal, hingga akhirnya Allah memberinya hidayah mengikuti Nabi-Nya shallallaahu 'alaihi wa sallam ketika Allah mengutusnya. Ia beriman kepada wahyu yang sampai kepadanya.

Tafsir Ibnu Katsir Bahasa Indonesia. Kandungan Surat al-Faatihah.


(Pasal) Surat yang mulia yang terdiri dari tujuh ayat ini mengandung pujian, pemuliaan, dan sanjungan bagi Allah Sub-haanahu wa Ta'aala dengan menyebut Nama-nama-Nya yang Husna (baik) dan sifat-sifat-Nya yang 'Ulya (tinggi). Juga mencakup tempat kembali manusia, yaitu hari Pembalasan. Selain itu, di dalamnya berisi bimbingan kepada hamba-hamba-Nya agar mereka memohon dan tunduk kepada-Nya, serta melepaskan upaya dan kekuatan diri mereka untuk selanjutnya dengan tulus ikhlas mengabdi kepada-Nya, mengesakan-Nya dan menyucikan-Nya dari sekutu atau tandingan. Juga berisi bimbingan agar mereka memohon petunjuk kepada-Nya menuju jalan yang lurus, yaitu agama yang benar serta menetapkan mereka di atas jalan tersebut. Sehingga ditetapkan bagi mereka untuk dapat menyeberangi jalan yang nyata pada hari Kiamat kelak menuju Surga yang penuh dengan kenikmatan, di sisi para Nabi, shiddiiqiin, syuhadaa' dan orang-orang shalih.

Surat ini juga mengandung targhib (anjuran) untuk mengerjakan amal shalih agar mereka dapat bergabung dengan orang-orang yang beramal shalih pada hari Kiamat kelak. Serta memperingatkan agar mereka tidak menempuh jalan kebathilan, agar mereka tidak digiring bersama orang-orang yang menempuh jalan tersebut pada hari Kiamat, yaitu mereka yang dimurkai dan tersesat.

Menyandarkan Nikmat Kepada Allah dan Tidak Menyandarkan Penyesatan Kepada-Nya Serta Bantahan Terhadap Qadariyyah


Betapa bagusnya penyandaran nikmat kepada Allah dalam firman-Nya: "Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka," dan penghapusan fa'il (pelaku) pada kata murka dalam firman-Nya: "Bukan jalan orang-orang yang mendapat murka," meskipun dalam hal ini fa'il yang sebenarnya adalah Allah, sebagaimana Dia berfirman:

"Tidaklah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman." (QS. Al-Mujaadilah: 14)

Demikian juga penyandaran kesesatan kepada pelakunya, meskipun kesesatannya itu telah Allah takdirkan, sebagaimana Dia berfirman: "Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka Dialah yang mendapat petunjuk, dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapat seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya." (QS. Al-Kahfi: 17)

Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman:

"Barangsiapa yang Allah sesatkan, maka baginya tidak ada orang yang dapat memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan." (QS. Al-A'raaf: 186)

Serta ayat-ayat lain yang menunjukkan bahwa hanya Allahlah yang memberikan hidayah maupun kesesatan. Tidak seperti ucapan kelompok Qadariyyah dan orang-orang yang mengikuti mereka bahwasanya diri hamba sendirilah yang memilih dan melakukan hal itu (hidayah dan kesesatan). Mereka berhujjah atas bid'ah mereka itu dengan ayat-ayat al-Qur-an yang mutasyaabih (maknanya belum jelas), dan meninggalkan makna yang jelas bertentangan dengan faham mereka. Demikianlah keadaan orang-orang yang sesat dan menyimpang itu. Telah disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Apabila kalian menyaksikan orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat, maka mereka itulah yang dimaksud oleh Allah, maka jauhilah mereka." (69)

Yakni yang maksud dalam firman Allah Ta'ala:

"Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya." (QS. Ali 'Imran: 7)

Dan al-hamdulillaah, tidak ada satu pun hujjah yang shahih dalam al-Qur-an bagi para ahli bid'ah, karena al-Qur-an diturunkan untuk menjelaskan antara yang haq dan yang bathil dan membedakan antara petunjuk dan kesesatan. Di dalamnya tidak ada pertentangan dan perbedaan, karena al-Qur-an diturunkan dari sisi Allah Yang Mahabijaksana lagi Mahaterpuji.

Mengucapkan "Aamiin" Setelah Membaca al-Faatihah


(Pasal) Disunnahkan bagi seseorang untuk mengucapkan 'aamiin' setelah membaca surat al-Faatihah seperti halnya "Yaasiin". Boleh juga mengucapkan 'aamiin' dengan alif dibaca pendek, yang artinya: "Ya Allah, kabulkanlah." Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi dari Wa-il bin Hujr ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam membaca "Ghairil magh-dhuubi 'alaihim wa ladh-dhaalliin", lalu beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam mengucapkan 'aamiin', dengan memanjangkan suaranya." (70)

Sedangkan dalam riwayat Abu Dawud disebutkan: "Dan beliau shallallaahu 'alaihi wa sallam mengangkat (mengeraskan) suaranya." At-Tirmidzi mengatakan: "Hadits ini hasan." Hadits ini juga diriwayatkan dari 'Ali, Ibnu Mas'ud dan lain-lain ra-dhiyallaahu 'anhum. (71)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Apabila Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam membaca "Ghairil magh-dhuubi 'alaihim wa ladh-dhaalliin", maka beliau mengucapkan 'aamiin'. Sehingga terdengar oleh orang-orang yang berada di belakang beliau pada shaff pertama." (72)

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah. Ibnu Majah menambahkan pada hadits tersebut dengan kalimat: "Sehingga masjid bergetar karenanya." (73) Hadits ini juga diriwayatkan oleh ad-Daraquthni. Ia mengatakan: "Sanad hadits ini hasan." (74)

Dan diriwayatkan dari Bilal ra-dhiyallaahu 'anhu, bahwa ia berkata: "Wahai Rasulullah, jangan dahului aku mengucapkan 'aamiin.'" Diriwayatkan oleh Abu Dawud. (75)

Abu Nashr al-Qusyairi menukil dari al-Hasan dan Ja'far ash-Shadiq bahwa keduanya mentasydid huruf mim pada 'aamiin' (menjadi aammiin) sebagaimana dalam firman Allah (surat al-Maa-idah ayat 2).

Sahabat-sahabat kami dan juga yang lainnya mengatakan: "Disunnahkan juga mengucapkan 'aamiin' bagi orang yang membacanya di luar shalat. Dan lebih ditekankan bagi orang yang mengerjakan shalat, baik ketika shalat sendirian, maupun sebagai imam ataupun makmum, serta dalam keadaan bagaimanapun. Berdasarkan hadits dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari Abu Hurairah ra-dhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jika seorang imam mengucapkan 'aamiin', maka ucapkanlah 'aamiin'. Sesungguhnya barangsiapa yang ucapan 'aamiin'nya bertepatan dengan ucapan 'aamiin' Malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (76)

Dalam riwayat Muslim, Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Jika salah seorang dari kalian mengucapkan 'aamiin' dalam shalat, sementara Malaikat di langit juga mengucapkan 'aamiin', lalu ucapan aamiin keduanya bertepatan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu." (77)

Ada yang mengatakan bahwa maknanya adalah waktu ucapan 'aamiin'nya bersamaan dengan 'aamiin' yang diucapkan oleh Malaikat. Ada juga yang berpendapat bahwa maksudnya adalah bersamaan dalam pengabulannya. Dan ada yang berpendapat, bahwa kesamaan itu dalam hal keikhlasannya.

Dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits marfu' dari Abu Musa ra-dhiyallaahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda:

"Apabila imam telah membaca ghairil magh-dhuubi 'alaihin wa ladh-dhaalliin, maka ucapkanlah 'aamiin', niscaya Allah akan mengabulkan permohonan kalian." (78)

At-Tirmidzi mengatakan bahwa makna 'aamiin' adalah: "Jangan sia-siakan harapan kami."

Dan kebanyakan ulama mengatakan bahwa maknanya: "Ya Allah, perkenankanlah untuk kami."

===

(68) Ahmad 4/378 dan Tuhfatul Ahwadzi 8/289. Shahiih: at-Tirmidzi no. 2953. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam kitabnya Shahiihul Jaami' no. 8202.

(69) Fat-hul Baari 8/57. Al-Bukhari no. 4547, Muslim no. 2665.

(70) Ahmad 4/315, Abu Dawud 1/574, Tuhfatul Ahwadzi 2/65. Shahih: Abu Dawud no. 932, at-Tirmidzi no. 248. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam kitabnya Shahiih Sunan Abi Dawud no. 824.

(71) Tuhfatul Ahwadzi 2/67. Shahih: Abu Dawud no. 932, at-Tirmidzi no. 248, hadits semisal diriwayatkan oleh an-Nasa-i no. 789, Ibnu Majah no. 855.

(72) Abu Dawud 1/575. Dha'if: Abu Dawud no. 934. Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani dalam Dha'iif Abi Dawud no. 197.

(73) Abu Dawud 1/575 dan Ibnu Majah 1/279. Ibnu Majah no. 853. Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Dha'iif Ibni Majah no. 182.

(74) Ad-Daraquthni 1/335.

(75) Abu Dawud 1/576. Dha'if: Abu Dawud no. 937. Lihat Dha'iif Sunan Abi Dawud no. 198.

(76) Fat-hul Baari 11/203 dan Muslim 1/307. Al-Bukhari no. 780, Muslim no. 410(70).

(77) Muslim 1/307. Muslim no. 410 (74, 75).

(78) Muslim 1/303.

===

Maraji'/ sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.co.id/search/label/shahih%20tafsir%20ibnu%20katsir%20jilid%201

===

Baca juga:

Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah

Demikianlah tafsir Ibnu Katsir bahasa Indonesia surat al-Fatihah ayat 7.

Tafsir Ibnu Katsir Lengkap: Surat al-Fatihah Ayat 6 | Tafsir Ibnu Katsir Indonesia

tafsir ibnu katsir lengkap
Tafsir Ibnu Katsir Lengkap. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Surat al-Faatihah (6).

Al-Faatihah, Ayat 6

"Ihdi-nash shiraa-thal mustaqiim"
Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus. (QS. 1: 6)

Tafsir Ibnu Katsir Lengkap. Rahasia Diakhirkannya Do'a Setelah Pujian dan Penyebutan Sifat


Setelah menyampaikan pujian kepada Allah Sub-haanahu wa Ta'aala dan menyatakan hanya kepada-Nya permohonan ditujukan, maka layaklah jika hal itu diiringi dengan permintaan. Sebagaimana firman-Nya (dalam hadits Qudsi): "Setengahnya untuk-Ku dan setengah lainnya untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."

Hal itu merupakan keadaan yang sangat sempurna bagi seseorang yang mengajukan permintaan. Pertama, ia memuji Rabb yang akan ia mintai dan kemudian memohon keperluan dirinya sendiri dan juga saudaranya dari orang-orang yang beriman, melalui ucapannya: "Ihdinash Shiraa-thal mustaqiim (Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus)." Karena hal itu lebih dekat kepada pengabulan dan dipenuhinya apa yang ia butuhkan. Karena itulah Allah Sub-haanahu wa Ta'aala membimbing kita untuk senantiasa melakukannya, karena hal itu lebih sempurna.

Permintaan itu bisa diajukan dengan cara memberitahukan keadaan dan kebutuhan orang yang mengajukan permintaan tersebut. Sebagaimana yang diucapkan Musa 'alaihis salaam:

"Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku." (QS. Al-Qashash: 24)

Permintaan itu bisa dimulai dengan menyebutkan sifat-sifat Rabb yang dia mintai, seperti ucapan Dzun Nuun (Nabi Yunus 'alaihis salaam): "Tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Anbiyaa': 87)

Tetapi terkadang permintaan itu cukup hanya dengan memuji-Nya. Sebagaimana yang diungkapkan oleh seorang penya'ir:

Apakah aku harus menyebutkan kebutuhanku, ataukah cukup bagiku rasa malu-Mu.
Sesungguhnya rasa malu merupakan adat kebiasaan-Mu.

Jika suatu hari seseorang menyampaikan pujian kepada-Mu, niscaya pujian itu mencukupi orang itu karena telah mengemukakannya.

Makna Hidayah


Kata hidayah dalam ayat ini berarti bimbingan dari taufiq. Terkadang kata hidayah itu muta'addi (membutuhkan obyek) tanpa huruf penyambung. Sebagaimana firman-Nya di sini: "Ihdinash Shiraa-thal mustaqiim (Tunjukanlah kepada kami jalan yang lurus."

Dalam ayat tersebut terkandung makna, berikanlah ilham kepada kami, atau berikanlah taufiq kepada kami, berikanlah rizki atau anugerah kepada kami.

Dan juga firman-Nya: "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan." (QS. Al-Balad: 10). Artinya, kami telah menjelaskan kepadanya jalan kebaikan dan jalan keburukan.

Selain itu kata hidayah juga bisa muta'addi dengan memakai kata "ilaa", sebagaimana firman Allah Sub-haanahu wa Ta'aala: "Allah telah memilihnya dan menujukinya kepada jalan yang lurus." (QS. An-Nahl: 121)

Dan juga firman-Nya: "Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke Neraka." (QS. Ash-Shaaffaat: 23)

Makna hidayah dalam ayat-ayat di atas adalah bimbingan dan petunjuk. Demikian juga firman-Nya: "Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus." (QS. Asy-Syuura: 52)

Terkadang kata hidayah muta'addi dengan memakai huruf "lam" sebagaimana ucapan para penghuni Surga: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (Jannah) ini." (QS. Al-A'raaf: 43). Artinya, Allah memberikan taufiq kepada kami untuk memperoleh Surga ini dan Dia menjadikan kami sebagai penghuninya.

Makna ash-Shiraa-thal Mustaqiim (Jalan yang Lurus)


Sedangkan mengenai ash-shiraa-thal mustaqiim (jalan yang lurus), Imam Abu Ja'far bin Jarir mengatakan: "Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa maksud ash-shiraa-thal mustaqiim adalah jalan yang terang dan lurus, tidak ada kebengkokan padanya. Demikian yang dikenal dalam bahasa seluruh bangsa Arab. Di antaranya adalah perkataan Jarir bin 'Athiyyah al-Khathfi:

'Amirul Mukminin di atas jalan yang lurus
Manakala persimpangan-persimpangan mulai bengkok.'" (66)

Ibnu Jarir menyambung penuturannya:

"Pendukung-pendukung bagi makna ini sangat banyak sehingga tidak bisa disebutkan satu persatu. Kemudian, orang Arab menggunakan kata shirath untuk makna-makna lain, di antaranya adalah setiap ucapan, perbuatan atau sifat yang lurus atau bengkok. Disifatkan mustaqim karena kelurusannya dan disebut mu'awwij karena kebengkokannya. Yang dimaksud di sini adalah Islam."

Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnadnya dari an-Nawwas bin Sam'an ra-dhiyallaahu 'anhu, dari Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

"Allah telah membuat sebuah perumpamaan shiraa-thal mustaqiim (jalan yang lurus), di dua sisi shirath (jalan) terdapat dua pagar. Di pagar tersebut terdapat pintu-pintu yang terbuka. Dan di pintu-pintu itu terdapat tirai-tirai yang terurai. Di depan shirath terdapat seseorang yang berseru: 'Wahai manusia, masuklah kalian semua ke dalam shirath ini dan janganlah berbelok.' Dan di atas shirath terdapat penyeru yang akan berseru, apabila ada seorang manusia yang ingin membuka pintu-pintu tersebut, penyeru di atas shirath berkata: 'Celaka (hati-hatilah) kamu, janganlah engkau membukanya. Jika engkau membukanya, niscaya engkau akan terperosok masuk ke dalamnya.' Shirath itu adalah Islam. Pagar-pagar itu adalah batasan-batasan Allah. Pintu-pintu yang terbuka itu adalah perkara-perkara yang diharamkan Allah. Penyeru di depan pintu shirath adalah Kitabullah. Dan penyeru di atas shirath adalah pemberi peringatan dari Allah yang ada di dalam hati setiap Muslim." (67)

Permohonan Hidayah Seorang Mukmin Sedangkan Ia Menyandang Sifat Itu (Hidayah)


Apabila ditanyakan, mengapa seorang mukmin meminta hidayah, baik di waktu mengerjakan shalat maupun di luar shalat, padahal ia sendiri menyandang sifat itu. Apakah yang demikian itu termasuk tah-shiilul haa-shil (usaha memperoleh sesuatu yang sudah ada) atau bukan?

Jawabnya, bukan. Sekiranya mereka tidak perlu memohon hidayah siang dan malam, niscaya Allah Sub-haanahu wa Ta'aala tidak akan membimbingnya untuk melakukan hal itu. Sebab, seorang hamba senantiasa membutuhkan Allah kapan saja dan bagaimanapun keadaannya, agar diberikan keteguhan, kemantapan, penambahan, dan hidayah, karena ia tidak kuasa mendatangkan manfaat ataupun mudharat kepada dirinya sendiri kecuali atas izin Allah Sub-haanahu wa Ta'aala.

Oleh karena itu Allah Sub-haanahu wa Ta'aala selalu membimbingnya untuk senantiasa memohon kepada-Nya setiap saat agar Dia memberikan pertolongan, keteguhan dan taufiq.

Orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufiq oleh Allah untuk senantiasa memohon kepada-Nya. Sebab, Allah telah menjamin akan mengabulkan permohonan seseorang apabila ia memohon kepada-Nya. Terlebih lagi permohonan orang yang berada dalam keadaan terdesak dan sangat membutuhkan bantuan-Nya pada malam dan siang hari. Allah Sub-haanahu wa Ta'aala berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada Kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta Kitab yang Allah turunkan sebelumnya." (QS. An-Nisaa': 136)

Allah telah memerintahkan orang-orang yang beriman agar tetap beriman. Dan hal ini bukan termasuk tah-shiilul haa-shil, karena maksudnya adalah memohon ketetapan, kelangsungan dan kesinambungan amal yang dapat membantu mencapai tujuan tersebut. Wallaahu a'lam.

Allah Sub-haanahu wa Ta'aala juga memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mengucapkan do'a:

Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba'da idz hadaitanaa wa hablanaa milladunka rahmatan innaka antal wahhaab
"(Mereka berdo'a): 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali 'Imran: 8)

Dengan demikian, makna firman-Nya: Ihdinash shiraa-thal mustaqiim adalah "Semoga Engkau terus berkenan menunjuki kami di atas jalan yang lurus dan jangan Engkau belokkan kami ke jalan yang lain."

===

(66) Ath-Thabari 1/170.

(67) Ahmad 4/182. Shahiih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih at-Targhiib no. 2348.

===

Maraji'/ sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.co.id/search/label/shahih%20tafsir%20ibnu%20katsir%20jilid%201

===

Baca juga tulisan:

Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah

Demikianlah tafsir surat al-Fatihah ayat 6 dalam Tafsir Ibnu Katsir Lengkap.

Friday, 8 April 2016

Tafsir Ibnu Katsir Online: Surat al-Fatihah Ayat 5 | Tafsir Ibnu Katsir Indonesia

tafsir ibnu katsir online
Tafsir Ibnu Katsir Online. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Surat al-Faatihah (5).

Al-Faatihah, Ayat 5

Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.

Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. (QS. 1: 5)

Makna 'Ibadah Menurut Bahasa dan Istilah Syari'at

Menurut bahasa 'ibadah bermakna kerendahan. Dikatakan: "Thariiqun mu'abbad wa ba'iirun mu'abbad (jalan yang diratakan dan unta yang dijinakkan)", yakni ditundukkan.

Adapun menurut istilah syari'at, 'ibadah adalah sebuah ibarat bagi rangkaian cinta, ketundukan dan rasa takut yang sempurna.

Faedah Didahulukannya Maf'ul dan Kemudian Diulangi

Didahulukannya maf'ul (obyek) yaitu kata iyaaka, dan setelah itu diulangi lagi, bertujuan untuk mendapatkan perhatian, dan juga sebagai pembatasan. Artinya: "Kami tidak beribadah kecuali kepada-Mu, dan kami tidak bertawakkal kecuali hanya kepada-Mu."

Inilah puncak kesempurnaan ketaatan. Dan agama ini secara keseluruhan kembali kepada dua makna di atas.

Sebagaimana dikatakan oleh sebagian Salaf, bahwa surat al-Faatihah adalah rahasia al-Qur-an. Dan rahasia al-Faatihah terletak pada ayat:

Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin.

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan."

Penggalan pertama, yakni "hanya kepada-Mu kami beribadah" merupakan pernyataan berlepas diri dari kemusyrikan. Sedangkan pada penggalan kedua, yakni "hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan" merupakan sikap berlepas diri dari upaya dan kekuatan, serta berserah diri kepada Allah 'Azza wa Jalla.

Makna seperti ini tidak hanya terdapat dalam satu ayat al-Qur-an saja, seperti firman-Nya:

"Maka ibadahilah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Rabbmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan." (QS. Huud: 123)

Juga firman-Nya:

"Katakanlah: 'Dialah Allah Yang Maha Pemurah, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nyalah kami bertawakkal." (QS. Al-Mulk: 29)

Dan juga firman-Nya:

"(Dialah) Rabb masyriq (timur) dan maghrib (barat), tiada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai pelindung." (QS. Al-Muzzammil: 9)

Demikian juga ayat yang mulia ini:

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." (QS. Al-Faatihah: 5)

Dan adanya perubahan bentuk dari ghaib (orang ketiga) kepada mukhaathab (orang kedua/ lawan bicara), yakni dengan huruf kaf, karena ketika seseorang memuji Allah maka seolah-olah dia dekat dan hadir di hadapan Allah Ta'ala. Karena itulah Dia berfirman:

"Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan." (QS. Al-Faatihah: 5)

TAFSIR IBNU KATSIR ONLINE: Al-Faatihah adalah petunjuk agar kita memuji Allah, maka kita wajib membacanya ketika shalat


Ini merupakan dalil bahwasanya awal-awal surat al-Faatihah merupakan pemberitahuan dari Allah 'Azza wa Jalla yang memberikan pujian kepada diri-Nya sendiri dengan berbagai sifat-Nya yang agung, serta petunjuk kepada hamba-hamba-Nya agar memuji-Nya dengan pujian tersebut. Oleh karena itu tidak sah shalat seseorang yang tidak membaca al-Faatihah di dalamnya, sedangkan ia mampu melakukannya, sebagaimana hadits yang terdapat dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari 'Ubaidah bin ash-Shamit radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab.'" (62)

Dan dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Allah Ta'ala berfirman: 'Aku telah membagi shalat (bacaan al-Faatihah) menjadi dua bagian antara diriku dengan hamba-Ku. Satu bagian untuk diri-Ku dan satu bagian untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.' Jika ia mengucapkan al-hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin, maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.' Jika ia mengucapkan ar-Rahmaanir Rahiim, maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.'" Dan pernah Abu Hurairah mengatakan: "(Allah berfirman:) 'Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.' Jika ia mengucapkan iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, maka Allah berfirman: 'Ini adalah bagian diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.' Dan jika ia mengucapkan ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdhuubi 'alaihim wa ladhdhaalliin, maka Allah berfirman: 'Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.'" (63)

Tauhid Uluhiyyah

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, ia berkata: Iyyaaka na'budu (Hanya kepada-Mu kami beribadah), yakni hanya Engkau semata yang kami esakan, kami takuti, dan kami harapkan wahai Rabb kami, bukan selain-Mu."

Tauhid Rububiyyah

Wa iyaaka nasta'iin (Hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan), untuk mentaati-Mu dan dalam segala urusan kami. (64)

Qatadah berkata: "Iyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin, Dia memerintahkan kepada kalian agar mengikhlaskan ibadah dan meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala urusan kalian." (65)

"Iyyaaka na'budu (Hanya kepada-Mu kami beribadah)" didahulukan dari "wa iyyaaka nasta'iin (hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan)", karena ibadah kepada-Nya merupakan tujuan. Dan meminta pertolongan merupakan wasilah (sarana) untuk mendapatkannya. Dan perkara yang didahulukan adalah perkara yang lebih penting, dan seterusnya. Wallaahu a'lam.

Allah menyebut Nabi-Nya sebagai hamba yang menduduki maqam yang paling mulia

Allah telah menyebut Nabi-Nya sebagai hamba-Nya yang menjadi bukti bahwa beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memiliki kedudukan mulia. Dia berfirman:

"Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya al-Kitab (al-Qur-an)." (QS. Al-Kahfi: 1)

Dia juga berfirman:

"Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyeru-Nya (mengerjkan ibadah)." (QS. Al-Jinn: 19)

Dia juga berfirman:

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam." (QS. Al-Israa': 1)

Allah menyebutnya (Nabi Muhammad Shallallaahu 'alaihi wa Sallam) sebagai seorang hamba ketika menurunkan al-Qur-an kepadanya, ketika beliau berdakwah dan ketika beliau diperjalankan pada malam hari.

Bimbingan kepada ibadah ketika dada terasa sempit

Dan Allah membimbing Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam untuk senantiasa menjalankan ibadah ketika hati merasa sesak akibat pendustaan orang-orang yang menentangnya. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadami menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu termasuk orang-orang yang bersujud (shalat), dan ibadahilah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal)." (QS. Al-Hijr: 97-99)

===

(62) Fat-hul Baari 2/276 dan Muslim 1/276. Al-Bukhari no. 756, Muslim no. 394.

(63) Muslim 1/297. Muslim no. 395, an-Nasa-i no. 909. Dan riwayat senada oleh Abu Dawud no. 821, at-Tirmidzi no. 2953, Ibnu Majah no. 3784, Ahmad no. 7289, 7823, dan lihat Shahiih at-Targhiib no. 1455.

(64) Ibnu Abi Hatim 1/19.

(65) Ibnu Abi Hatim 1/20.

===

Maraji'/ sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.co.id/search/label/shahih%20tafsir%20ibnu%20katsir%20jilid%201

===

Baca juga:

Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah

Demikianlah tafsir Ibnu Katsir Online Surat al-Fatihah ayat 5.

Tafsir AlQuran Ibnu Katsir: Surat Al-Fatihah Ayat 3 - 4 | Tafsir Ibnu Katsir Indonesia

tafsir alquran ibnu katsir
Tafsir AlQuran Ibnu Katsir. Shahih Tafsir Ibnu Katsir. Surat al-Faatihah (3-4).

TAFSIR ALQURAN IBNU KATSIR Al-Faatihah, Ayat 3


Firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Ar-Rahmaanir Rahiim."
Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1: 3)

Telah dijelaskan pada pembahasan basmalah, sehingga tidak perlu diulang kembali. Al-Qurthubi berkata: "Allah menyifati diri-Nya dengan ar-Rahmaan dan ar-Rahiim setelah Rabbul 'aalamiin, untuk menyertai anjuran (targhiib) setelah peringatan (tarhiib). Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Kabarkan kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih." (QS. Al-Hijr: 49-50)

Dan juga firman-Nya:

"Sesungguhnya Rabbmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-An'aam: 165) (54)

Selanjutnya al-Qurthubi mengatakan: "Ar-Rabb merupakan peringatan, sedangkan ar-Rahmaan dan ar-Rahiim merupakan anjuran."

Dalam Shahiih Muslim disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Seandainya seorang mukmin mengetahui siksaan yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang bersemangat untuk meraih Surga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui rahmat yang ada di sisi Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang berputus asa dari rahmat-Nya." (55)

TAFSIR ALQURAN IBNU KATSIR Al-Faatihah, Ayat 4


"Maaliki yaumid diin."
Yang menguasai hari pembalasan. (QS. 1: 4)

Makna Pengkhususan al-Maalik (Penguasa) pada Hari Pembalasan

Pengkhususan kekuasaan pada hari Pembalasan tidaklah menafikan kekuasaan Allah atas kerajaan lainnya (kerajaan di dunia). Karena telah disampaikan sebelumnya bahwa Di adalah Rabb semesta alam. Dan kekuasaan-Nya itu umum, baik di dunia maupun di akhirat. Disandarkannya (al-Maalik) kepada kalimat yaumid diin (hari Pembalasan), karena pada hari itu tidak ada seorang pun yang dapat mengaku-aku sesuatu dan tidak juga dapat berbicara kecuali dengan izin Allah. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Pada hari ketika ruh dan para Malaikat berdiri bershaff-shaff, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang diberi izin kepadanya oleh Rabb Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar." (QS. An-Naba': 38)

Dan Allah berfirman:

"Dan merendahlah semua suara kepada Yang Maha Pemurah, maka kamu tidak mendengar kecuali bisikan saja." (QS. Thaahaa: 108)

Dia juga berfirman:

"Di kala datang hari itu, tidak ada seorang pun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya, maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia." (QS. Huud: 105)

Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma tentang Maaliki yaumid diin, ia berkata: "Pada hari itu hukum hanyalah milik Allah, tidak seperti ketika mereka hidup di dunia."

Makna Yaumud Diin

Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma berkata: "Hari Pembalasan adalah hari Perhitungan bagi semua makhluk, disebut juga hari Kiamat. Mereka diberi balasan sesuai dengan 'amalnya. Jika 'amalnya baik, maka balasannya juga baik. Dan jika 'amalnya buruk, maka balasannya pun buruk kecuali bagi orang yang diampuni." (56)

Hal serupa juga dikatakan oleh Shahabat lainnya radhiyallaahu 'anhum, Tabi'in dan juga para 'ulama Salaf. Dan inilah pendapat yang jelas.

Raja dan Raja Diraja adalah Allah

Raja yang hakiki adalah Allah 'Azza wa Jalla, Dia berfirman:

"Dialah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera." (QS. Al-Hasyr: 23)

Dalam kitab ash-Shahiihain (Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim), diriwayatkan sebuah hadits marfu' dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Julukan yang paling hina di sisi Allah adalah seorang yang menjuluki dirinya malikul mulk (raja diraja), (karena) tidak ada raja yang sebenarnya kecuali Allah." (57)

Dalam kitab yang sama diriwayatkan juga dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Allah (pada hari Kiamat) akan menggenggam bumi dan melipat langit dengan tangan kanan-Nya, lalu berfirman: 'Di manakah raja-raja bumi? Di manakah mereka yang merasa perkasa? Di mana orang-orang yang sombong?'" (58)

Sedangkan di dalam al-Qur-an disebutkan:

"Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini? Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan." (QS. Al-Mu'-min: 16)

Adapun penyebutan raja bagi selain Allah di dunia hanyalah bersifat majas (kiasan), sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu." (QS. Al-Baqarah: 247)

Juga firman-Nya:

"Karena di hadapan mereka ada seorang raja." (QS. Al-Kahfi: 79)

Dan juga firman-Nya:

"Ketika Dia mengangkat Nabi-nabi di antaramu, dan menjadikan kamu orang-orang merdeka." (QS. Al-Maa-idah: 20)

Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim disebutkan sebuah hadits:

"Seperti raja-raja di atas singgasana." (59)

Tafsir ad-Diin

Kata ad-diin berarti pembalasan dan perhitungan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Di hari itu, Allah akan memberi mereka balasan yang setimpal menurut semestinya." (QS. An-Nuur: 25)

Dia juga berfirman:

"Apakah sesungguhnya kita benar-benar (akan dibangkitkan) untuk diberi pembalasan?" (QS. Ash-Shaaffaat: 53)

Yakni pembalasan dan perhitungan.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Al-Kayyis (orang cerdas dan kuat) adalah orang yang senantiasa bermuhasabah (mengintrospeksi dirinya) dan beramal untuk (kehidupan) setelah kematian." (60)

Artinya, ia akan senantiasa menghisab dirinya, sebagaimana yang dikatakan oleh 'Umar radhiyallaahu 'anhu:

"Hisablah diri kalian sendiri sebelum kalian dihisab, dan timbanglah diri ('amal) kalian sebelum diri ('amal) kalian ditimbang. Dan bersiaplah untuk menghadapi hari yang besar, yakni hari diperlihatkannya 'amal seseorang, sementara semua 'amal kalian tidak tersembunyi dari-Nya. 'Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tidak ada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).' (QS. Al-Haaqqah: 18)." (61)

===

(54) Al-Qurthubi 1/139.

(55) Muslim 4/2109. Muslim no. 2755(23), at-Tirmidzi no. 3542, Ahmad no. 8396, 9153, 10285 dan lihat Shahiih at-Targhiib no. 3379.

(56) Ibnu Abi Hatim 1/19.

(57) Fat-hul Baari 1/604 dan Muslim 3/1688. Al-Bukhari no. 6205, 6206, Muslim no. 2143(20), Abu Dawud no. 4961, at-Tirmidzi no. 2837, Ahmad no. 7325.

(58) Fat-hul Baari 13/404 dan Muslim 4/2148. Al-Bukhari no. 4812, 6519, 7382, Muslim no. 2788(23), Ahmad no. 8850.

(59) Fat-hul Baari 6/89 dan Muslim 3/1518. Al-Bukhari no. 2877, Muslim no. 1912, an-Nasa-i no. 3171 dengan lafazh Mitslu (مِثْلُ).

(60) Ibnu Majah 2/1423. Dha'if: At-Tirmidzi no. 2459, Ibnu Majah no. 4260, Ahmad 4/124 dan didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Dha'iiful Jaami' no. 4310 dan Syaikh al-Arna'uth hafizhahullaah, al-Musnad 28/350 no. 17123, cet. Ar-Risalah.

(61) Mushannaf Ibnu Abi Syaibah no. 34459, cet. Maktabah ar-Rusyd, Riyadh.

===

Maraji'/ sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.co.id/search/label/shahih%20tafsir%20ibnu%20katsir%20jilid%201

===

Baca juga tulisan:

Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Fatihah

Demikianlah tafsir alQuran Ibnu Katsir Surat al-Baqarah ayat 3 - 4.

Tuesday, 5 April 2016

Tafsir al Quran surat al-Faatihah ayat 2 | Tafsir Ibnu Katsir Indonesia

tafsir al quran
Tafsir al-Quran. Al-Faatihah, Ayat 2. Al-Hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. (QS. 1: 2)

Makna Kata al-Hamdu, -pent.


Abu Ja'far bin Jarir berkata: "Makna al-Hamdulillaah adalah bersyukur kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala semata dan bukan kepada sesembahan selain-Nya, bukan juga kepada makhluk yang telah Dia ciptakan, atas segala nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada para hamba-Nya yang tidak terhingga jumlahnya. Kenikmatan tersebut berupa kemudahan berbagai sarana untuk menaati-Nya dan anugerah berupa kekuatan fisik untuk dapat melaksanakan kewajiban-kewajiban dari-Nya. Selain itu Dia telah memberikan rizki kepada mereka di dunia serta melimpahkan berbagai macam kenikmatan dalam hidup mereka, yang (pada dasarnya) mereka sama sekali tidak memiliki hak atas hal itu. Pelimpahan nikmat ini disertai dengan peringatan dan seruan kepada mereka agar menggunakan nikmat-nikmat itu sebagai sebab-sebab (sarana-sarana) yang dapat membawa mereka kepada kekekalan hidup di Surga tempat segala macam kenikmatan yang abadi. Hanya bagi Allah segala puji, di awal maupun di akhir." (44)

Ibnu Jarir rahimahullaah mengatakan: "Al-Hamdulillaahi merupakan pujian Allah bagi diri-Nya. Di dalamnya terkandung perintah kepada hamba-hamba-Nya agar mereka memuji diri-Nya, seolah-olah Dia mengatakan: 'Ucapkanlah al-Hamdulillaah'."

Ada yang mengatakan bahwa ucapan al-Hamdulillaah adalah pujian bagi Allah dengan Nama-nama-Nya yang husna (baik) dan sifat-sifat-Nya yang 'ulya (tinggi). Adapun ucapan asy-Syukru lillaah adalah pujian bagi-Nya atas segala nikmat dan pertolongan-Nya. (45)

Tafsir al-Quran. Perbedaan antara al-Hamdu dan asy-Syukru.


Setelah diteliti, antara keduanya terdapat keumuman dan kekhususan. Al-Hamdu lebih umum dari asy-Syukru jika dilihat dari obyeknya, karena al-hamdu bisa dikaitkan dengan sifat-sifat lazim (tidak berkaitan dengan obyek) dan juga sifat-sifat muta'addi (yang berkaitan dengan obyek) seperti engkau mengatakan: hamid-tuhu lifuruu siyyatihi "حَمِدْتُهُ لِفُرُوْسِيَّتِهِ" (aku memujinya karena sifatnya yang kesatria) dan bisa juga engkau mengatakan: hamid-tuhu likara mihi "حَمِدْتُهُ لِكَرَمِهِ" (aku memujinya karena kedermawanannya). Di satu sisi al-hamdu lebih khusus dari asy-syukru karena al-hamdu hanya bisa diwujudkan dalam bentuk ucapan semata.

Adapun asy-syukru lebih umum dari al-hamdu karena ia bisa diwujudkan melalui ucapan, perbuatan, ataupun niat. Dan ia lebih khusus dari al-hamdu karena hanya berkaitan dengan sifat-sifat muta'addiyah (memiliki obyek). Engkau tidak bisa mengatakan: syakar-tuhu lafuruu siyyatihi "شَكَرْتُهُ لَفُرُوْسِيَّتِهِ" (aku bersyukur kepadanya karena sifatnya yang ksatria). Namun, engkau bisa mengatakan: syakar-tuhu 'ala karamihi wa ihsaanihi ilayya "شَكَرْتُهُ عَلَى كَرَمِهِ وَإِحْسَانِهِ إِلَيَّ" (aku bersyukur kepadanya karena kedermawanan dan kebaikannya kepadaku).

Demikianlah yang disimpulkan oleh sebagian ulama muta-akhkhirin. Wallaahu a'lam.

Abu Nashr Isma'il bin Hammad al-Jauhari mengatakan: "Al-hamdu (pujian) adalah lawan dari adz-dzammu (celaan). Engkau mengatakan: 'Aku memuji seorang laki-laki dengan sebuah pujian.' Orang yang memuji adalah hamiid dan orang yang dipuji adalah mahmuud. At-tahmiid memiliki makna lebih daripada al-hamdu. Al-hamdu lebih umum dari asy-syukru." Ia (Abu Nashr) mengatakan bahwa asy-syukru adalah pujian atas orang yang berbuat kebaikan karena kebaikannta, maka dikatakan: "Syakartuhu" atau, "Syakartu lahu (aku bersyukur kepadanya)." Dan memakai huruf lam itu lebih fasih. Adapun al-mad-hu lebih umum dari al-hamdu, karena al-mad-hu bisa ditujukan kepada orang yang masih hidup ataupun sudah mati dan juga kepada benda mati. Sebagaimana al-mad-hu ditujukan kepada makanan, tempat dan lain sebagainya. Ia bisa diberikan sebelum mendapat kebaikan ataupun setelahnya atas sifat muta'addi (transitif/ memerlukan obyek) maupun lazim (intransitif/ tidak memerlukan obyek).

Ucapan-ucapan Salaf tentang al-Hamdu


Dan diriwayatkan oleh selain Abu Ma'mar, dari Hafsh, ia berkata: "'Umar radhiyallaahu 'anhu berkata kepada 'Ali radhiyallaahu 'anhu -dan para Shahabat radhiyallaahu 'anhum berada di sisinya-: 'Kami telah mengetahui tentang Laa ilaaha illallaah, Sub-haanallaah, dan Allaahu Akbar. Lalu apa al-Hamdulillaah itu?' Maka 'Ali menjawab: 'Ia adalah kalimat yang disukai oleh Allah Ta'ala bagi diri-Nya dan Dia meridhainya bagi diri-Nya serta menyukai kalimat itu diucapkan'." (46)

Dan Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhu berkata: "Al-Hamdulillaah adalah kalimat syukur. Apabila seorang hamba mengucapkan al-hamdulillaah, maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji-Ku." Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. (47)

Keutamaan al-Hamdu


Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah meriwayatkan dari al-Aswad bin Sari' radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Aku berkata kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam: 'Wahai Rasulullah, maukah engkau aku puji dengan segala pujian seperti yang aku berikan kepada Rabbku Tabaaraka wa Ta'aala?' Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: '(Tidak!) Adapun Rabbmu 'Azza wa Jalla sesungguhnya Dia menyukai al-hamdu'." Diriwayatkan juga oleh an-Nasa-i. (48)

Diriwayatkan oleh Abu 'Isa al-Hafizh at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah dari hadits Musa bin Ibrahim bin Katsir, dari Thalhah bin Khurrasy dari Jabir bin 'Abdillah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Sebaik-baik dzikir adalah kalimat Laa ilaaha illallaah, dan sebaik-baik do'a adalah al-Hamdulillaah.'"

At-Tirmidzi mengatakan: "(Hadits hasan) ini gharib." (49)

Ibnu Majah meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidaklah Allah menganugerahkan suatu nikmat kepada seorang hamba, lalu ia mengucapkan al-hamdulillaah, melainkan apa yang diberikan-Nya itu lebih baik dari apa yang diambil-Nya." (50)

Di dalam kitab Sunan Ibni Majah diriwayatkan dari Ibnu 'Umar radhiyallaahu 'anhuma, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka:

'Sesungguhnya seorang dari hamba Allah mengucapkan:

Yaa Rabbi, lakal hamdu kamaa yanba-ghii lijalaali waj-hika wa li'a-zhiimi sul-thaanika
'Ya Rabbku, segala puji bagi-Mu sebagaimana yang layak bagi kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kerajaan-Mu.' Maka hal itu membingungkan dua Malaikat (pencatat), mereka tidak tahu bagaimana mencatatnya, maka keduanya naik ke langit menemui Allah, seraya berkata: 'Wahai Rabb kami, sesungguhnya seorang hamba telah mengucapkan sebuah ucapan yang kami tidak tahu bagaimana mencatatnya.' Maka Allah bertanya -dan Dia Maha Mengetahui apa yang diucapkan oleh hamba-Nya-: 'Apa yang diucapkan hamba-Ku?' Kedua Malaikat itu menjawab: 'Wahai Rabb, dia mengatakan: 'Bagi-Mu segala puji sebagaimana kemuliaan wajah-Mu dan keagungan kerajaan-Mu.' Maka Allah berfirman: 'Tulislah sebagaimana yang diucapkan hamba-Ku, hingga ia bertemu dengan-Ku lalu Aku memberinya balasan karenanya.'" (51)

Alif Laam pada Kata al-Hamdu untuk Istighraq


Alif Laam pada kata al-hamdu dimaksudkan untuk istighraq, yakni untuk mencakup segala jenis dan bentuk pujian hanya bagi Allah semata. Sebagaimana disebutkan dalam hadits:

"Ya Allah, bagi-Mu segala pujian seluruhnya, dan bagi-Mu seluruh kerajaan. Di tangan-Mu seluruh kebaikan dan kepada-Mu kembali segala urusan." (52)

Makna ar-Rabb


Ar-Rabb adalah pemilik, penguasa dan pengatur. Menurut bahasa, kata Rabb ditujukan kepada tuan dan kepada siapa yang berbuat untuk perbaikan. Semua itu benar bagi Allah Ta'ala. Kata ar-Rabb tidak digunakan untuk selain Allah, kecuali jika disambung dengan kata lain setelahnya, misalnya rabbud daar (pemilik rumah). Sedangkan nama ar-Rabb (secara mutlak) hanya boleh digunakan oleh Allah 'Azza wa Jalla. Dan ada yang mengatakan bahwa itu adalah al-ismul a'zham (nama yang agung).

Makna al-'Aalamiin


Al-'Aalamiin adalah jamak dari 'alam yang berarti segala sesuatu yang ada selain Allah 'Azza wa Jalla. 'Aalam adalah bentuk jamak yang tidak memiliki bentuk mufrad (bentuk tunggal). Al-'Awaalim berarti berbagai macam makhluk yang ada di langit, bumi, daratan maupun lautan. Dan setiap kurun atau generasi juga disebut 'aalam. Al-Farra' dan Abu 'Ubaid mengatakan: "Al-'Aalam adalah sebuah ungkapan bagi sesuatu yang berakal, yakni manusia, jin, Malaikat dan syaitan. Dan hewan tidak disebut alam."

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam dan Abu Muhaishin: "Al-'Aalam adalah segala sesuatu yang memiliki ruh dan hidup."

Qatadah berkata: "(Rabbil 'aalamiin) maka 'aalamiin adalah seluruh bentuk alam." Az-Zajjaj mengatakan: "Al-'Aalam adalah segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah di dunia maupun akhirat."

Al-Qurthubi berkata: "Inilah yang benar, karena ia mencakup seluruh alam (dunia dan akhirat), sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Fir'aun bertanya: 'Siapa Rabb semesta alam itu?' Musa menjawab: 'Rabb Pencipta langit dan bumi dan apa saja yang ada di antara keduanya (itulah Rabbmu), jika kamu sekalian (orang-orang) yang mempercayai-Nya." (QS. Asy-Syu'araa': 23-24)

Alasan Penamaan al-'Aalam


Kata al-'aalam terbentuk (musytaq) dari kata al-'allaamah. Aku (Ibnu Katsir) katakan: "Sebab, alam merupakan bukti yang menunjukkan adanya Pencipta serta menunjukkan keesaan-Nya." (53)

===

(44) Tafsiir ath-Thabari 1/135.

(45) Tafsiir ath-Thabari 1/137.

(46) Ibnu Abi Hatim 1/15.

(47) Ibnu Abi Hatim 1/13.

(48) Ahmad 3/435 dan an-Nasa-i dalam al-Kubra 4/416. Hasan: Dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Adabul Mufrad no. 660.

(49) Tuhfatul Ahwadzi 9/324, an-Nasa-i dalam al-Kubra 6/208 dan Ibnu Majah 2/1249. Hasan: at-Tirmidzi no. 3383, Ibnu Majah no. 3800. Lihat Shahiih at-Targhiib no. 1526.

(50) Ibnu Majah 2/1250. Shahih: Ibnu Majah no. 3805. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih Jami' ash-Shaghiir no. 5563.

(51) Ibnu Majah 2/1249. Dha'if: Ibnu Majah no. 3801. Lihat Dha'iif at-Targhiib wat Tarhiib no. 961.

(52) At-Targhiib wat Tarhiib 2/253.

(53) Al-Qurthubi 1/139.

===

Maraji'/ sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.co.id/search/label/shahih%20tafsir%20ibnu%20katsir%20jilid%201

===

Baca juga:

Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah

inilah tafsir surat al-fatihah ayat 2 dalam blog tafsir al-Quran.

Tafsir Surat al-Faatihah Ayat 1 | Tafsir Ibnu Katsir Indonesia

tafsir
Tafsir Al-Faatihah, Ayat 1. Basmalah adalah ayat ke-1 dari surat al-Faatihah.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Bismillaahir Rahmaanir Rahiim
Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1: 1)

Para Shahabat radhiyallaahu 'anhum membuka Kitabullah dengan membacanya. Dan para ulama telah sepakat bahwa Bismillaahir Rahmaanir Rahiim adalah salah satu ayat dari surat an-Naml. Tetapi mereka berbeda pendapat, apakah basmalah itu merupakan ayat yang berdiri sendiri pada awal setiap surat, atau merupakan bagian dari awal masing-masing surat dan ditulis pada pembukaannya, atau merupakan salah satu ayat dari setiap surat.

Di antara ulama yang menyatakan bahwa basmalah adalah ayat dari setiap surat kecuali at-Taubah adalah Ibnu 'Abbas, Ibnu 'Umar, Ibnuz Zubair, Abu Hurairah, dan 'Ali radhiyallaahu 'anhum. Sedangkan dari kalangan Tabi'in adalah 'Atha', Thawus, Sa'id bin Jubair, Makhul dan az-Zuhri rahimahumullaah. Hal yang sama juga dikatakan oleh 'Abdullah Ibnul Mubarak, Imam asy-Syafi'i, Ahmad bin Hanbal (menurut satu riwayat), Ishaq bin Rahawaih, dan Abu 'Ubaid al-Qasim bin Sallam rahimahumullaah.

Sedangkan Imam Malik dan Abu Hanifah rahimahumullaah dan orang-orang yang sependapat dengannya mengatakan bahwa basmalah tidak termasuk ayat dari surat al-Faatihah, tidak juga surat-surat yang lain. Dan menurut Dawud, basmalah terletak pada awal setiap surat dan bukan bagian darinya. Demikian pula menurut satu riwayat dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah.

Tafsir: Apakah basmalah dibaca sirr (pelan) atau dibaca jahr (keras) pada shalat jahriyah?


Mengenai bacaan basmalah secara jahr (dikeraskan), maka yang berpendapat bahwa basmalah itu bukan termasuk ayat al-Faatihah, ia tidak membacanya secara jahr. Demikian juga yang mengatakan bahwa basmalah adalah satu ayat dari awal al-Faatihah. Adapun mereka yang berpendapat bahwa basmalah merupakan bagian pertama dari setiap surat, dalam hal ini mereka berbeda pendapat. Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa basmalah dibaca secara jahr bersama al-Faatihah dan juga surat-surat lainnya.

Inilah madzhab sekelompok Shahabat, Tabi'in serta para imam, baik Salaf maupun Khalaf. Di antara Shahabat yang membacanya secra jahr adalah Abu Hurairah, Ibnu 'Umar, Ibnu 'Abbas dan Mu'awiyah radhiyallaahu 'anhum. Ibnu 'Abdil Barr dan al-Baihaqi meriwayatkan dari 'Umar dan 'Ali radhiyallaahu 'anhuma. Al-Khatib menukilnya dari khalifah yang empat yakni Abu Bakar, 'Umar, 'Utsman, dan 'Ali radhiyallaahu 'anhum, dan riwayat ini gharib. Dan dari Tabi'in di antaranya Sa'id bin Jubair, 'Ikrimah, Abu Qilabah, az-Zuhri, 'Ali bin al-Hasan dan anaknya yakni Muhammad, Sa'id bin al-Musayyab, 'Atha', Thawus, Mujahid, Salim, Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi, Abu Bakar bin Muhammad bin 'Amr bin Hazm, Abu Wa-il, Ibnu Sirin, Muhammad bin al-Munkadir, 'Ali bin 'Abdillah bin 'Abbas dan anaknya yakni Muhammad, Nafi' maula Ibnu 'Umar, Zaid bin Aslam, 'Umar bin 'Abdil 'Aziz, al-Azraq bin Qais, Habib bin Abi Tsabit, Abu asy-Sya'tsa', Mak-hul, dan 'Abdullah bin Ma'qil bin Muqrin. Al-Baihaqi menambahkan: 'Abdullah bin Shafwan dan Muhammad bin al-Hanafiyah. Sementara Ibnu 'Abdil Barr menambahkan: 'Amr bin Dinar.

Dalil yang digunakan oleh orang yang berpendapat bahwa basmalah harus dibaca secara jahr, -pent.


Alasannya karena basmalah termasuk bagian dari surat al-Faatihah. Maka ia pun dibaca keras sebagaimana ayat-ayat lainnya. Demikian juga telah diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam kitab Sunan, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahiih keduanya, serta al-Hakim dalam al-Mustadrak dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu bahwasanya ia mengerjakan shalat dan membaca basmalah secara jahr. Setelah selesai ia mengatakan: "Aku telah mempraktekkan shalat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam kepada kalian." Hadits ini dishahihkan oleh ad-Daraquthni, al-Khatib, al-Baihaqi dan lain-lain. (26)

Dalam Shahiih al-Bukhari disebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, bahwa ia pernah ditanya tentang shalat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, maka ia menjawab: "Bacaan beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam itu (kalimat demi kalimat) sesuai dengan panjang pendeknya." Kemudian Anas membaca bismillaahir rahmaanir rahiim, dengan memanjangkan kalimat bismillaah, lalu ar-Rahmaan dan ar-Rahiim (dengan memanjangkan bagian-bagian yang perlu dipanjangkan)." (27)

Dan diriwayatkan dalam Musnad al-Imam Ahmad, Sunan Abi Dawud, Shahiih Ibni Khuzaimah, dan Mustadrak al-Hakim dari Ummu Salamah radhiyallaahu 'anha, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasa memutus bacaan beliau di setiap akhir ayat: Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin. Ar-Rahmaanir Rahiim. Maaliki yaumid diin."

Dan ad-Daraquthni mengatakan: "Sanad-sanadnya shahih." (28)

Adapun Imam Abu 'Abdillah asy-Syafi'i dan al-Hakim dalam kitab Mustadraknya meriwayatkan dari Anas radhiyallaahu 'anhu, bahwasanya Mu'awiyah radhiyallaahu 'anhu mengerjakan shalat di Madinah dan ia meninggalkan basmalah (tidak membacanya secara jahr), maka hal itu diingkari oleh para Shahabat Muhajirin radhiyallaahu 'anhum. Lalu Mu'awiyah mengerjakan shalat untuk kedua kalinya dengan membaca basmalah secara jahr." (29)

Hadits-hadits dan atsar yang kami sebutkan di atas kiranya sudah cukup menjadi hujjah bagi pendapat ini atas pendapat yang menentangnya. Adapun tentang riwayat-riwayat lain yang bertentangan dan asing, tentang jalur-jalurnya, cacat-cacat, kedha'ifan, serta penetapannya dijelaskan pada tempat yang lain.

Beberapa pendapat lain mengenai bacaan basmalah beserta dalilnya, -pent.


Sebagian ulam lainnya berpendapat bahwa basmalah tidak dibaca secara jahr dalam shalat. Inilah yang shahih dari para khalifah yang empat radhiyallaahu 'anhum, 'Abdullah bin Mughaffal, dan beberapa golongan ulama Salaf maupun Khalaf. Ini pula yang menjadi pendapat madzhab Abu Hanifah, ats-Tsauri dan Ahmad bin Hanbal rahimahumullaah.

Adapun menurut Imam Malik, basmalah tidak dibaca sama sekali, baik secara jahr maupun sirr. Mereka berdalil dengan hadits yang terdapat dalam Shahiih Muslim dari 'Aisyah radhiyallaahu 'anhuma, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membuka shalat dengan takbir dan bacaan al-hamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin." (30)

Diriwayatkan pula dalam Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim dari Anas bin Malik radhiyallaahu 'anhu, ia menceritakan: "Aku pernah mengerjakan shalat di belakang Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, Abu Bakar, 'Umar, dan 'Utsman. Mereka semua membuka shalat dengan bacaan al-hamdu lillaahi Rabbil 'aalamiin."

Dan menurut riwayat Muslim: "Mereka tidak menyebutkan 'Bismillaahir Rahmaanir Rahiim' pada awal bacaan dan tidak juga pada akhirnya." (31) (32)

Hal senada juga terdapat dalam kitab Sunan, diriwayatkan dari 'Abdullah bin Mughaffal radhiyallaahu 'anhu. (33)

Demikianlah dasar-dasar pengambilan pendapat para imam mengenai masalah ini. Pendapat mereka tidaklah jauh berbeda, karena mereka semua sepakat bahwa orang yang shalat, baik membaca bismillah secara jahr maupun secara sirr keduanya adalah sah. Segala pujian dan sanjungan hanyalah milik Allah 'Azza wa Jalla.

Pasal: Keutamaan basmalah


Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya meriwayatkan dari seorang yang dibonceng oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, ia berkata: "Tunggangan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tergelincir, maka aku katakan: 'Celaka syaitan.' Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Janganlah engkau mengucapkan: 'Celaka syaitan'. Karena jika engkau mengucapkannya, maka ia akan membesar dan berkata: 'Dengan kekuatanku, aku jatuhkan dia'. Dan jika engkau mengucapkan 'bismillah', maka ia akan menjadi kecil hingga seperti seekor lalat.'" (34)

Dan an-Nasa-i juga meriwayatkan dalam 'Amalul Yaum wal Lailah dan Ibnu Mardawaih dalam kitab tafsirnya dari Usamah bin 'Umair, ia berkata: "Aku pernah dibonceng oleh Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam", lalu ia menyebutkan kejadiannya, dan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Jangan mengucapkan itu, karena syaitan akan membesar seperti rumah. Akan tetapi ucapkanlah: 'Bismillaah', niscaya ia akan menjadi kecil seperti seekor lalat." (35)

Ini merupakan berkah dari ucapan "bismillaah."

Disunnahkan membaca basmalah sebelum memulai setiap pekerjaan

Oleh karena itu disunnahkan membaca basmalah pada awal setiap ucapan maupun perbuatan. Disunnahkan juga membacanya pada awal khutbah berdasarkan dalil yang ada. Dan juga disunnahkan membacanya sebelum masuk ke kamar kecil (toilet), berdasarkan hadits dalam masalah itu. (36)

Demikian juga sebelum berwudhu' berdasarkan hadits dalam Musnad al-Imam Ahmad dan juga dalam kitab Sunan dari riwayat Abu Hurairah, Sa'id bin Zaid dan Abu Sa'id radhiyallaahu 'anhum secara marfu', Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidak sempurna wudhu' bagi orang yang tidak menyebut Nama Allah (mengucapkan basmalah) padanya." (37) Hadits ini hasan.

Demikian pula disunnahkan membacanya sebelum makan, berdasarkan hadits dalam Shahiih Muslim, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah bersabda kepada anak tiri beliau, 'Umar bin Abi Salamah:

"Ucapkan 'bismillaah', makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang dekat darimu." (38)

Meski demikian, sebagian ulama ada yang mewajibkannya.

Disunnahkan juga membacanya ketika hendak berjima' (berhubungan badan), berdasarkan hadits dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim, dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Seandainya salah seorang dari kalian hendak mencampuri isterinya ia membaca:

بِاسْمِ اللَّهِ, اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا

'Bismillaah, Allaahumma jannibnasy syai-thaana wa jannibisy syai-thaana maa razaqtanaa
(Dengan menyebut Nama Allah, jauhkanlah kami dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari apa yang Engkau anugerahkan kepada kami)', maka jika Allah menakdirkan lahirnya anak, maka anak itu tidak akan diganggu oleh syaitan selamanya." (39)

Kata-kata apakah seolah-olah dihilangkan sebelum atau sesudah lafazh 'Bismillaah' (Dengan (menyebut) Nama Allah)


Dari uraian di bawah ini jelaslah bagi kita bahwa dua pendapat di kalangan ahli nahwu dalam masalah apa yang dikaitkan dengan huruf ba' pada ucapan 'Bismillaah', apakah ia isim (kata benda) ataukah fi'il (kata kerja), bahwa kedua pendapat ini berdekatan. Dan keduanya terdapat di dalam al-Qur-an. Adapun mengaitkannya dengan isim, maka taqdir kalimatnya adalah bismillaah ibtida-i (permulaan) seperti firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Dan Nuh berkata: 'Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut Nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.' Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Huud: 41)

Adapun mengaitkannya dengan fi'il, baik amr atau khabar, misalnya: ibda' (mulailah) dengan bismillaah atau ibtada'-tu (aku memulai) dengan bismillaah, seperti firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Bacalah dengan (menyebut) Nama Rabbmu Yang menciptakan." (QS. Al-'Alaq: 1)

Keduanya benar, karena fi'il pasti memiliki mashdar. Maka engkau mentaqdirkan fi'il dan mashdarnya. Dan itu berkaitan dengn fi'il yang engkau sebutkan sebelumnya, seperti qiyaaman (berdiri), qu'uudan (duduk), akalan (makan), wudhuu-an (wudhu'), atau shalaatan (shalat). Maka yang disyari'atkan adalah menyebut Nama Allah sebelum memulai semua itu, untuk meraih berkah, kebaikan dan pertolongan agar pekerjaan itu sempurna dan dapat diterima. Wallaahu a'lam.

Makna Lafzhul Jalaalah (اللّه)


(Allah) merupakan nama untuk Rabb Tabaaraka wa Ta'aala. Dikatakan bahwa Allah adalah al-ismul a'zham (nama yang paling agung), karena nama itu menyandang semua sifat. Sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

"Dialah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tidak ada ilah (yang berhak diibadahi dengan benar) selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk rupa, Yang mempunyai Nama-nama yang paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Al-Hasyr: 22-24)

Dengan demikian semua Nama-nama yang baik itu merupakan sifat-Nya, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Hanya milik Allahlah Asma-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma-ul Husna itu." (QS. Al-A'raaf: 180)

Dan Dia juga berfirman:

"Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahmaan. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asma-ul Husna (Nama-nama yang terbaik)." (QS. Al-Israa': 110)

Dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya Allah memiliki 99 (sembilan puluh sembilan) Nama, seratus kurang satu. Barangsiapa menjaganya, niscaya ia masuk Surga." (40)

Tafsir ar-Rahmaan ar-Rahiim


"...Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." (QS. 1: 1)

Ar-Rahmaan ar-Rahiim merupakan dua Nama dalam bentuk mubalaghah (bermakna lebih) yang berasal dari satu kata ar-Rahmaan. Namun, Nama ar-Rahmaan memiliki makna yang lebih dari ar-Rahiim.

Dalam pernyataan Ibnu Jarir, dapat dipahami adanya kesepakatan mengenai hal ini.

Al-Qurthubi mengatakan bahwa dalil yang menunjukkan bahwa nama ini musytaq (terbentuk) dari kata lain adalah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari 'Abdurrahman bin 'Auf radhiyallaahu 'anhu bahwasanya ia mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Allah Ta'ala berfirman: 'Aku adalah ar-Rahmaan, Aku telah menciptakan rahim (kekerabatan). Aku telah menjadikan untuknya nama dari Nama-Ku. Barangsiapa menyambungnya, maka Aku akan menyambungnya. Dan barangsiapa memutuskannya, maka Aku akan memutuskannya." (41)

Al-Qurthubi berkata: "Ini merupakan nash bahwa nama tersebut musytaq. Dan pengingkaran orang-orang Arab terhadap Nama ar-Rahmaan disebabkan kejahilan mereka tentang Allah dan apa yang wajib bagi-Nya."

Al-Qurthubi berkata: "Kemudian dikatakan, keduanya memiliki satu makna, misalnya kata nadmaan dan nadiim, demikian dikatakan oleh Abu 'Ubaid. Ada juga yang mengatakan bahwasanya timbangan kata fa'laan tidak seperti fa'iil. Karena fa'laan tidak digunakan kecuali pada fi'il yang memiliki makna lebih, seperti perkataanmu rajulun ghadh-baanun untuk menyebut seorang laki-laki yang kemarahannya memuncak. Adapun fa'iil terkadang bermakna faa'ilun (subyek) atau maf'uulun (obyek).

Abu 'Ali al-Farisi berkata: "Ar-Rahmaan merupakan Nama yang bersifat umum meliputi segala bentuk rahmat, dan dikhususkan bagi Allah semata. Sedangkan ar-Rahiim ditujukan bagi orang-orang yang beriman. Allah berfirman: "Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzaab: 43)

Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma berkata: "Keduanya adalah dua nama yang mengandung kelembutan. Dan salah satunya lebih lembut dari yang lainnya, yakni lebih banyak mengandung rahmat." (42)

Ibnu Jarir meriwayatkan: Telah berkata kepada kami as-Sarri bin Yahy at-Tamimi, telah berkata kepada kami 'Utsman bin Zufar, aku mendengar al-'Azrami berkata tentang ar-Rahmaan ar-Rahiim, ia berkata: "Ar-Rahmaan untuk seluruh makhluk dan ar-Rahiim untuk orang-orang yang beriman." (43)

Mereka mengatakan: Karena itulah Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman: "Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah." (QS. Al-Furqaan: 59)

Dan Dia berfirman: "(Yaitu) Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas 'Arsy." (QS. Thaahaa: 5)

Dia menyebutkan istiwa' (bersemayam) dengan Nama ar-Rahmaan untuk meliputi seluruh makhluk dengan rahmat-Nya.

Tetapi Dia berfirman: "Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman." (QS. Al-Ahzaab: 43)

Dalam ayat ini Dia mengkhususkan dengan Nama ar-Rahiim.

Mereka mengatakan: "Ini menunjukkan bahwa Nama ar-Rahmaan, lebih mengandung rahmat karena keumumannya di dua negeri (dunia dan akhirat) dan untuk seluruh makhluk-Nya. Adapun ar-Rahiim dikhususkan bagi orang-orang yang beriman. Akan tetapi disebutkan dalam sebuah do'a Rasulullah: "Rahmaan (Pengasih) di dunia dan akhirat dan Rahiim (Penyayang) pada keduanya." (Dalam do'a ini Rahmaan dan Rahiim meliputi dunia dan akhirat, -pent).

Nama ar-Rahmaan khusus bagi Allah dan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahmaan. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaa-ul Husna (Nama-nama yang terbaik)." (QS. Al-Israa': 110)

Dan juga firman-Nya:

"Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelummu: 'Adakah Kami menentukan ilah-ilah untuk diibadahi selain Allah Yang Maha Pemurah?" (QS. Az-Zukhruf: 45)

Oleh karena itu ketika Musailamah al-Kadzdzab dengan kesombongannya menamakan dirinya dengan Rahmaanul Yamamah, maka Allah memakaikan kepadanya pakaian kebohongan (al-Kadzdzab), sehingga dia terkenal dengannya. Dia tidak dipanggil melainkan dengan sebutan Musailamah al-Kadzdzab (Musailamah si pendusta). Maka jadilah ia perlambang kebohongan bagi penduduk kota maupun penduduk desa dari kalangan Arab badui.

Oleh karena itulah didahulukan Nama Allah yang tidak bisa dipakai oleh selain-Nya. Dan menyifatkan Allah terlebih dahulu dengan sifat ar-Rahmaan yang tidak boleh disandang oleh selain-Nya, sebagaimana Allah Ta'ala berfirman:

"Katakanlah: 'Serulah Allah atau serulah ar-Rahmaan. Dengan Nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al-Asmaa-ul Husna (Nama-nama yang terbaik)." (QS. Al-Israa': 110)

Musailamah telah menyombongkan diri dan menamakan dirinya dengan nama ini (Rahmaan). Dan tidak ada yang mengikutinya dalam hal ini kecuali orang yang bersamanya dalam kesesatan.

Adapun ar-Rahiim, Allah Subhaanahu wa Ta'aala telah menyifatkan selain diri-Nya dengan nama ini. Dia berfirman:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah: 128)

Sebagaimana Allah telah menyifatkan selain diri-Nya dengan Nama-Nya yang lain. Sebagaimana firman-Nya:

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." (QS. Al-Insaan: 2)

Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa di antara Nama-nama Allah ada yang boleh diberikan kepada selain diri-Nya, dan ada juga yang tidak boleh diberikan kepada selain-Nya, seperti nama ar-Rahmaan, al-Khaaliq, ar-Razzaaq dan lain sebagainya.

Oleh karena itulah, Dia memulai dengan Nama-Nya (yang paling terkenal), yaitu Allah dan kemudian menyifati-Nya dengan ar-Rahmaan, karena ar-Rahmaan lebih khusus dan lebih dikenal daripada ar-Rahiim. Nama yang disebut lebih dulu adalah nama yang paling mulia, oleh karena itu Dia memulai dengan menyebut Nama-Nya yang lebih khusus, dan seterusnya.

Telah disebutkan dalam hadits Ummu Salamah radhiyallaahu 'anha bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam biasa memutus bacaan beliau huruf demi huruf (ayat demi ayat): Bismillaahir Rahmaanir Rahiim. Al-Hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin. Ar-Rahmaanir Rahiim. Maaliki yaumid diin.

Maka sebagian ulama pun membacanya demikian. Tetapi di antara mereka ada pula yang menyambung bismillaahir Rahmaanir Rahiim dengan ayat al-Hamdulillaahi Rabbil 'aalamiin.

===

(26) An-Nasa-i 2/134, Ibnu Khuzaimah 1/251, Shahiih Ibni Hibban 3/143, al-Hakim 1/232, ad-Daraquthni 1/305, dan al-Baihaqi 2/46.

(27) Fat-hul Baari 8/709. Al-Bukhari no. 5046.

(28) Ahmad 6/302, Abu Dawud 4/294, Ibnu Khuzaimah 1/248, al-Hakim 2/231, dan ad-Daraquthni 1/307.

(29) Musnad al-Imam asy-Syafi'i 1/80 dan al-Hakim 1/233.

(30) Ibnu Abi Hatim 1/12. Muslim no. 498(240).

(31) Fat-hul Baari 2/265, dan Muslim 1/299. Al-Bukhari no. 743, Muslim no. 399.

(32) Al-Hafizh berkata dalam Buluughul Maraam: "Dalam riwayat Ahmad, an-Nasa-i dan Ibnu Khuzaimah disebutkan: "Mereka tidak menjahrkan 'Bismillaahir Rahmaanir Rahiim', dan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah yang lain disebutkan: "Mereka membacanya secara sirr." Oleh karena itulah penafian dalam riwayat Muslim dibawakan kepada makna ini.

(33) At-Tirmidzi no. 244. Ibnu Majah no. 815. Dha'if: Didha'ifkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam kitabnya Dha'iif Sunan at-Tirmidzi no. 39 dan Dha'iif Sunan Ibni Majah no. 174.

(34) Ahmad 5/59. Shahih: Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiihul Jaami' no. 7401.

(35) An-Nasa-i dalam al-Kubra 6/142.

(36) 'Aunul Ma'buud 1/6. Lihat pula Shahiihul Jaami' no. 3610.

(37) Ahmad 3/410, Abu Dawud 1/75, Tuhfatul Ahwadzi 1/115, an-Nasa-i 1/61 dan Ibnu Majah 1/140. Shahih: Abu Dawud no. 101, at-Tirmidzi no. 25, Ibnu Majah no. 399. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih at-Targhiib wat Tarhiib no. 203.

(38) Muslim 3/1600. Al-Bukhari no. 5376, 5378 dengn perbedaan lafazh, Muslim no. 2022.

(39) Fat-hul Baari 9/136 dan Muslim 2/1058. Al-Bukhari no. 141, Muslim no. 1434.

(40) Fat-hul Baari 11/218, dan Muslim 4/2062. Al-Bukhari no. 2736, 7392, Muslim no. 2677(6).

(41) Tuhfatul Ahwadzi 6/33. Shahiih lighairihi: Abu Dawud no. 1694, at-Tirmidzi no. 1907. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani rahimahullaah dalam Shahiih at-Targhiib no. 2528.

(42) Al-Qurthubi 1/105.

(43) Tafsiir ath-Thabari 1/127.

===

Maraji'/ sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.co.id/search/label/shahih%20tafsir%20ibnu%20katsir%20jilid%201

===

Baca juga:

Tafsir Ibnu Katsir: Surat al-Faatihah

Inilah tafsir surat al-Fatihah ayat 1 dalam blog Tafsir.

Tafsir al-Fatihah Ibnu Katsir | Tafsir Ibnu Katsir Indonesia

tafsir al-fatihah ibnu katsir
Tafsir al-Fatihah Ibnu Katsir. Surat al-Faatihah (Pembukaan). Surat Makkiyah. Surat Ke-1: 7 Ayat.

Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1:1) Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. (QS. 1:2) Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. (QS. 1:3) Yang menguasai hari Pembalasan. (QS. 1:4) Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. (QS. 1:5) Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus. (QS. 1:6) (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. (QS. 1:7)

Tafsir al-Fatihah Ibnu Katsir. Nama al-Faatihah dan maknanya.


Surat ini disebut al-Faatihah (pembuka) yang maknanya adalah pembuka kitab secara tertulis. Dengan surat inilah dibukanya bacaan dalam shalat. Surat ini disebut juga Ummul Kitab (induk al-Qur-an) berdasarkan pendapat jumhur.

At-Tirmidzi telah meriwayatkan sebuah hadits dan ia menshahihkannya dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Al-Hamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin adalah Ummul Qur-aan, Ummul Kitaab dan as-Sab'ul Matsaani (tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang) dan al-Qur-aanul 'Azhiim.'" (*)

Surat al-Faatihah disebut juga al-Hamdu dan ash-Shalaah, berdasarkan sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika meriwayatkan dari Rabbnya, Dia berfirman:

"Aku membagi ash-Shalaah antara diri-Ku dan hamba-Ku menjadi dua bagian. Jika seorang hamba mengucapkan 'Al-Hamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin', maka Allah Ta'ala berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.'" (1)

Surat al-Faatihah disebut ash-Shalaah karena termasuk syarat sahnya shalat.


Surat al-Faatihah disebut juga ar-Ruqyah berdasarkan hadits Abu Sa'id ketika ia meruqyah seorang laki-laki yang terkena sengatan dengan surat ini, maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidakkah engkau tahu bahwa al-Faatihah itu adalah ruqyah?" (2)

Surat ini termasuk surat Makkiyah (diturunkan sebelum hijrah ke Madinah). Demikian yang dikatakan Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, Qatadah, dan Abul 'Aliyah, berdasarkan firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala, "Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang." (QS. Al-Hijr: 87)

Wallaahu a'lam.

Jumlah ayatnya


Surat ini terdiri dari tujuh ayat tanpa ada perselisihan. Dan basmalah () adalah satu ayat berdiri sendiri pada awal surat al-Faatihah, sebagaimana pendapat jumhur Qurra' dan kufah. Dan juga merupakan pendapat sejumlah Shahabat, Tabi'in, dan ulama Khalaf.

Jumlah kata dan hurufnya


Mereka mengatakan, "Surat al-Faatihah terdiri dari 25 kata dan 113 huruf."

Mengapa dinamakan Ummul Kitaab?


Al-Bukhari berkata di awal kitab tafsir: "Disebut Ummul Kitaab karena al-Faatihah ditulis pada permulaan al-Qur-an dan dibaca pada permulaan shalat." (3)

Ada yang mengatakan: "Disebut Ummul Kitaab karena seluruh makna al-Qur-an kembali kepada apa yang dikandungnya."

Ibnu Jarir mengatakan: "Orang Arab menyebut kata 'umm' untuk semua yang mencakup atau mendahului sesuatu jika ia memiliki perkara-perkara yang mengikutinya dan ia sebagai pemuka baginya. Seperti ummur ra'-si adalah sebutan untuk kulit yang meliputi otak. Dan mereka menyebut bendera dan panji tempat berkumpulnya pasukan di bawahnya dengan sebutan umm." Ia mengatakan: "Kota Makkah disebut Ummul Quraa karena keberadaannya terlebih dahulu dan ia sebagai penghulu bagi kota-kota lainnya. Ada yang mengatakan: 'Disebut Ummul Quraa karena bumi terbentang darinya'." (4)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bahwa beliau bersabda tentang Ummul Qur-aan:

"Dia adalah Ummul Qur-aan, dia adalah as-Sab'ul Matsaani dan dia adalah al-Qur-aanul 'Azhiim." (5)

Abu Ja'far Muhammad bin Jarir ath-Thabari meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Ia adalah Ummul Qur-aan, ia adalah Faatihatul Kitaab dan ia adalah as-Sab'ul Matsaani." (6)

Keutamaan al-Faatihah


Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah meriwayatkan dalam Musnadnya dari Abu Sa'id bin Mu'alla rahimahullaah, ia berkata: "Aku pernah mengerjakan shalat, kemudian Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya hingga aku menyelesaikan shalat. Setelah itu aku mendatangi beliau, maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bertanya: 'Apa yang menghalangimu untuk datang kepadaku?' Maka aku menjawab: 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya tadi aku sedang mengerjakan shalat.' Lalu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Bukankah Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

'Hai orang-orang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada apa yang memberi kehidupan kepadamu'. (QS. Al-Anfaal: 24)?

Setelah itu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Aku akan mengajarkan kepadamu satu surat yang paling agung dalam al-Qur-an sebelum engkau keluar dari masjid ini.' Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam menggandeng tanganku. Dan ketika beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam hendak keluar dari masjid, aku mengatakan: 'Wahai Rasulullah, engkau tadi mengatakan akan mengajarkan kepadaku surat yang paling agung dalam al-Qur-an.' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Benar, al-Hamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin adalah as-Sab'ul Matsaani dan al-Qur-aanul 'Azhiim yang telah diturunkan kepadaku'." (7)

Demikian pula diriwayatkan oleh al-Bukhari, (8) Abu Dawud, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah. (9)

Hadits lain, diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Fadhaa-ilul Qur-aan dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallaahu 'anhu: "Kami pernah melakukan suatu perjalanan, lalu kami singgah. Kemudian datanglah seorang budak wanita seraya berkata: 'Sesungguhnya kepala suku kami tersengat, dan orang-orang kami sedang tidak ada di tempat. Apakah di antara kalian ada yang bisa meruqyah?' Maka berangkatlah bersamanya seorang laki-laki yang kami tidak pernah menyangka bahwa ia bisa meruqyah. Kemudian ia membacakan ruqyah dan kepala suku itu pun sembuh. Lalu kepala suku itu memerintahkan agar ia diberi tiga puluh ekor kambing dan kami diberi minum susu. Setelah kembali kami bertanya kepadanya: 'Apakah engkau memang pandai dan biasa meruqyah?' Maka ia menjawab: 'Aku tidak meruqyah kecuali dengan Ummul Kitaab (al-Faatihah).' Kami katakan: 'Jangan melakukan apa pun hingga kita menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan menanyakan hal itu kepada beliau.' Sesampainya di Madinah kami menceritakan hal itu kepada Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, maka beliau bersabda:

'Bagaimana ia tahu bahwa surat al-Faatihah itu adalah ruqyah? Bagi-bagilah kambing itu dan berikan satu bagian kepadaku'." (10)

Hadits lain, diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahiihnya dan an-Nasa-i dalam Sunannya dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma, ia berkata: "Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam tengah bersama Malaikat Jibril, tiba-tiba terdengar suara keras dari atas. Maka Jibril mengarahkan pandangannya ke langit seraya berkata: 'Itu adalah dibukanya sebuah pintu di langit yang belum pernah dibuka sebelumnya.'" Ibnu 'Abbas melanjutkan: "Dari pintu itu turunlah satu Malaikat dan menemui Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam seraya berkata: 'Sampaikanlah kabar gembira kepada ummatmu tentang dua cahaya. Kedua cahaya itu telah diberikan kepadamu dan belum pernah diturunkan kepada seorang Nabi pun sebelummu, yaitu Faatihatul Kitaab dan beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf darinya melainkan akan diberikan pahala kepadamu.'" Ini adalah lafazh dalam riwayat an-Nasa-i dan riwayat Muslim senada dengannya. (11)

Al-Faatihah dalam shalat


Hadits lain diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

"Barangsiapa yang mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur-an di dalamnya, maka shalatnya kurang... kurang... kurang, yakni tidak sempurna." Dikatakan kepada Abu Hurairah: "(Bagaimana jika) kami berada di belakang imam?" Maka Abu Hurairah berkata: "Bacalah al-Faatihah itu secara sirr (hanya terdengar oleh diri sendiri), karena aku pernah mendengar Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Allah 'Azza wa Jalla berfirman: 'Aku telah membagi ash-Shalaah (bacaan al-Faatihah) menjadi dua bagian antara diri-Ku dengan hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Jika ia mengucapkan: 'Al-Hamdulillaahi Rabbil 'Aalamiin,' maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuji-Ku.' Jika ia mengucapkan, 'Ar-Rahmaanir Rahiim,' maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.' Jika ia mengucapkan: 'Maaliki yaumid Diin,' maka Allah berfirman: 'Hamba-Ku telah memuliakan-Ku.'" Dan Abu Hurairah pernah mengatakan: "(Allah berfirman:) 'Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku.' Jika ia mengucapkan: 'Iyyaaka na'budu wa iyyaaka nasta'iin,' maka Allah berfirman: 'Ini adalah antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta.' Dan jika ia mengucapkan: 'Ihdinash shiraathal mustaqiim, shiraathal ladziina an'amta 'alaihim ghairil maghdhuubi 'alaihim waladh dhaalliin,' maka Allah berfirman: 'Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta'."

Demikianlah yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i dan dalam lafazh riwayat Muslim dan an-Nasa-i disebutkan: "Setengahnya untuk-Ku dan setengah lagi untuk hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta." (12)

Pembahasan tentang hadits ini dan khususnya berkaitan dengan al-Faatihah

Dalam hadits di atas disebutkan kata "shalat (qasamtush shalaat)", dan yang dimaksud adalah bacaan, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala: "Janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara keduanya." (QS. Al-Israa': 110)

Maksud "suaramu" yakni "bacaanmu", sebagaimana dijelaskan dalam riwayat yang shahih dari Ibnu 'Abbas radhiyallaahu 'anhuma. (13)

Demikian juga Allah berfirman dalam hadits qudsi ini: "Aku telah membagi shalat (bacaan al-Faatihah) menjadi dua bagian antara diri-Ku dan hamba-Ku. Separuh untuk diri-Ku dan separuh untuk hamba-Ku. Dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta."

Kemudian Allah menjelaskan pembagian itu secara rinci dalam bacaan al-Faatihah. Ini menunjukkan agungnya bacaan al-Faatihah dalam shalat dan itu merupakan rukun yang utama. Di sini disebutkan ibadah (shalat) sedang yang dimaksud adalah satu bagian darinya yaitu bacaan shalat. Sebagaimana disebutnya kata qur-aan (bacaan), sedangkan yang dimaksud adalah shalat, seperti dalam firman Allah: "Dan (dirikanlah pula shalat) Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh Malaikat)." (QS. Al-Israa': 78)

Sebagaimana disebutkan secara jelas dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim: "Shalat Shubuh itu disaksikan oleh Malaikat malam dan Malaikat siang." (14)

Wajibnya membaca al-Faatihah dalam setiap shalat baik sebagai imam, makmum ataupun shalat sendirian


Seluruh penjelasan di atas menunjukkan bahwa bacaan al-Faatihah dalam shalat merupakan suatu hal yang wajib menurut kesepakatan para ulama. Hal ini ditunjukkan oleh hadits yang telah disebutkan sebelumnya, yakni sabda Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

"Barangsiapa mengerjakan shalat tanpa membaca Ummul Qur-aan di dalamnya, maka shalatnya kurang." (15)

Yang dimaksud dengan khidaaj adalah kurang, yakni tidak sempurna sebagaimana dijelaskan dalam lanjutan hadits tersebut.

Disebutkan juga dalam kitab Shahiih al-Bukhari dan Shahiih Muslim, sebuah hadits dari 'Ubaidah bin ash-Shamit radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Tidak sah shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab (surat al-Faatihah).'" (16)

Demikian pula hadits yang tercantum dalam Shahiih Ibni Khuzaimah dan Shahiih Ibnu Hibban dari Abu Hurairah radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

"Tidak sah shalat yang di dalamnya tidak dibacakan Ummul Qur-aan." (17)

Hadits-hadits dalam bab ini sangatlah banyak. Maka setiap orang yang shalat wajib membaca Faatihatul Kitaab baik ia sebagai imam, makmum ataupun shalat munfarid (sendirian) dalam setiap shalat dan dalam setiap raka'at.

Tafsir al-Isti'aadzah dan hukum-hukumnya


Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang lain mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-A'raaf: 199-200)

Allah juga berfirman:

"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan (perbuatan) yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah, 'Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mu dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS. Al-Mu'-minuun: 96-98)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat: 34-36)

Tidak ada ayat lain yang memiliki makna seperti tiga ayat di atas. Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan manusia agar beramah tamah dengan musuh dari kalangan manusia dan berbuat baik kepadanya, sehingga dapat mengembalikannya kepada tabi'at asalnya, yakni sebagai teman dan sahabat. Sebaliknya, Allah memerintahkan agar memohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan dari jenis jin. Karena dia tidak menerima ramah-tamah maupun kebaikan. Ia tidak menghendaki sesuatupun, kecuali kebinasaan anak Adam. Hal ini disebabkan karena kerasnya permusuhan antara dia dengan anak Adam, sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Hai anak Adam, janganlah sekali-kali kamu dapat ditipu oleh syaitan, sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua ibu bapakmu dari Surga." (QS. Al-A'raaf: 27)

Allah juga berfirman:

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni Neraka yang menyala-nyala." (QS. Faathir: 6)

Dan Dia berfirman:

"Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu. Amat buruklah (iblis) itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zhalim." (QS. Al-Kahfi: 50)

Syaitan telah bersumpah kepada bapak kita Adam 'alaihis salaam bahwa dia adalah pemberi nasihat baginya, padahal dia berdusta. Lalu bagaimana pula mu'amalah syaitan dengan kita? Sementara mereka telah berkata: "Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlas di antara mereka." (QS. Shaad: 82-83)

Allah juga berfirman:

"Apabila kamu membaca al-Qur-an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang menjadikannya pemimpin dan atas orang-orang yang menyekutukannya dengan Allah." (QS. An-Nahl: 98-100)

Isti'aadzah sebelum membaca al-Qur-an


Makna firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala:

"Apabila kamu membaca al-Qur-an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk." (QS. An-Nahl: 98)

Yakni jika engkau hendak membaca, (maka sebelumnya bacalah isti'aadzah (a'uudzu billaahi minasy syaithaanir rajiim)) sebagaimana firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala: "Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah wajah dan tanganmu." (QS. Al-Maa-idah: 6)

Yakni, jika engkau hendak mengerjakan shalat, (maka berwudhu'lah terlebih dahulu).

Hal ini juga berdasarkan hadits-hadits Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam:

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullaah meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Apabila Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam hendak mengerjakan shalat malam, maka beliau membuka shalatnya dengan bertakbir seraya mengucapkan:

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ وَتَبَرَكَ اسْمُكَ وَتَعَالَى جَدُّكَ وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ

Sub-haanakallaahumma wa bihamdika wa tabarakasmuka wa ta'aala jadduka wa laa ilaaha ghairuka
'Mahasuci Engkau ya Allah, dan segala puji bagi-Mu. Mahaagung Nama-Mu dan Mahatinggi kemuliaan-Mu. Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Engkau.'

Kemudian beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam membaca:

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

Laa ilaaha illallaah
Tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah.
Sebanyak tiga kali.

Setelah itu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengucapkan:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ السَّمِيْعِ الْعَلِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

A'uu-dzu billaahis samii'il 'aliimi minasy syai-thaanir rajiimi min hamzihi wa naf-khihi wa naf-tsihi
'Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari syaitan yang terkutuk, dari godaan, tiupan dan hembusannya.'"

Hadits ini juga diriwayatkan oleh para penulis kitab Sunan yang empat. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini adalah hadits paling masyhur dalam masalah ini. (18)

Kata al-hamz juga ditafsirkan dengan cekikan (yang menyebabkan kematian), an-nafkh adalah kesombongan dan an-nafts adalah sya'ir. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Jubair bin Muth'im dari ayahnya, ia berkata: "Aku melihat Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam ketika mulai mengerjakan shalat, beliau mengucapkan:

اَللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا -ثَلَاثًا-, اَلْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا -ثَلَاثًا-, سُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا -ثَلَاثًا-, اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

'Allaahu Akbaru kabiiraa (Allah Mahabesar)' sebanyak tiga kali, 'al-Hamdulillaahi ka-tsiiraa (segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak)' sebanyak tiga kali, 'Sub-haanallaahi bukratan wa a-shiilaa (Mahasuci Allah di waktu pagi dan petang) sebanyak tiga kali. (Lalu beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam mengucapkan:) 'Allaahumma innii a'uu-dzu bika minasy syai-thaanir rajiim min hamzihi wa naf-khihi wa naf-tsihi (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari gangguan syaitan yang terkutuk, dari godaan, tiupan dan hembusannya).'"

'Amr berkata: "Makna al-hamz adalah cekikan (yang menyebabkan kematian), an-nafkh adalah kesombongan dan an-nafts adalah sya'ir." (19)

Ibnu Majah meriwayatkan, telah menceritakan kepada kami 'Ali bin al-Mundzir, telah menceritakan kepada kami Ibnu Fudhail, telah menceritakan kepada kami 'Atha' bin as-Sa-ib dari Abu 'Abdirrahman as-Sulami dari Ibnu Mas'ud radhiyallaahu 'anhu dari Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ مِنْ هَمْزِهِ وَنَفْخِهِ وَنَفْثِهِ

Allaahumma innii a'uu-dzu bika minasy syai-thaanir rajiimi min hamzihi wa naf-khihi wa naf-tsihi
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari (gangguan) syaitan yang terkutuk, serta godaan, tiupan dan hembusannya."

Ibnu Majah berkata, "Al-hamz adalah cekikan (yang menyebabkan kematian), an-nafkh adalah kesombongan dan an-nafts adalah sya'ir." (20)

Membaca ta'awwudz ketika marah


Al-Hafizh Abu Ya'la Ahmad bin 'Ali bin al-Mutsanna al-Mushili meriwayatkan dalam kitab Musnadnya dari Ubay bin Ka'ab radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Dua orang laki-laki bertengkar di hadapan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, hidung salah seorang dari keduanya mengembang dan mengempis karena marah. Maka beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang jika ia mengucapkannya, niscaya akan hilang semua yang ia rasakan. Yaitu ucapan:

أَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

A'uu-dzu billaahi minasy syai-thaanir rajiim
(Aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).'"

Demikian yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam 'Amalul Yaum wal Lailah. (21)

Al-Bukhari meriwayatkan dari Sulaiman bin Shurad radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Ada dua orang laki-laki saling mencela di hadapan Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, sedang kami duduk di hadapan beliau. Salah seorang dari keduanya mencela yang lainnya dalam keadaan marah dan wajah yang memerah. Maka Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Sesungguhnya aku mengetahui suatu kalimat yang jika ia mengucapkannya niscaya akan hilang kemarahannya. Yaitu ucapan: A'uu-dzu billaahi minasy syai-thaanir rajiim (aku berlindung kepada Allah dari syaitan yang terkutuk).'"

Maka para Shahabat radhiyallaahu 'anhum berkata kepada orang itu: "Tidakkah engkau mendengar apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam?" Orang itu menjawab: "Sesungguhnya aku bukanlah orang yang kurang akal."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud dan an-Nasa-i. (22)

Dan masih banyak hadits-hadits yang menyebutkan tentang isti'adzah ini yang terlalu panjang pembahasannya jika disebutkan di sini. Dan penyebutannya mungkin dalam kitab tentang dzikir atau fadha-ilul 'amal, wallaahu a'lam.

Apakah isti'adzah itu wajib atau sunnah?


(Masalah:) Jumhur ulama berpendapat bahwa isti'adzah itu hukumnya sunnah dan bukan suatu kewajiban yang jika seseorang meninggalkannya, maka ia berdosa. Ar-Razi menceritakan dari 'Atha' bin Abi Rabah tentang wajibnya isti'adzah di dalam shalat dan di luar shalat ketika hendak membaca al-Qur-an. Ar-Razi berhujjah dengan riwayat 'Atha', yaitu dengan zhahir ayat: "Maka hendaklah kamu meminta perlindungan." Ini adalah perintah yang zhahirnya wajib. Juga karena Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam rutin melakukannya. Dan isti'adzah dapat menolak keburukan syaitan. Sedangkan suatu perkara yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya, maka perkara itu pun wajib. Di samping itu isti'adzah merupakan tindakan kehati-hatian. Maka, jika seseorang yang berlindung mengucapkan: "A'uu-dzu billaahi minasy syai-thaanir rajiim," maka itu sudah cukup.

Di antara manfaat isti'aadzah


Di antara manfaatnya adalah untuk menyucikan dan mengharumkan mulut dari kata-kata yang buruk dan tidak berfaedah. Isti'aadzah ini digunakan untuk membaca firman-firman Allah. Artinya, memohon pertolongan kepada Allah sekaligus menyatakan pengakuan atas kekuasaan-Nya, kelemahan dirinya sebagai seorang hamba dan ia tidak berdaya melawan musuh yang sejati (syaitan), yang bersifat bathin (tidak terlihat) dan tidak seorang pun mampu menolak dan mengusirnya kecuali Allah yang telah menciptakannya. Karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan. Berbeda dengan musuh dari jenis manusia. Sebagaimana ditunjukkan oleh ayat al-Qur-an tentang tsalaatsin minal matsaani (tiga perkara yang diulang-ulang) dan firman Allah Subhaanahu wa Ta'aala: "Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Rabbmu sebagai Penjaga." (QS. Al-Israa': 65)

Dan para Malaikat telah turun untuk memerangi musuh dari kalangan manusia. Barangsiapa dibunuh oleh musuh yang bersifat lahiriyah dari kalangan manusia, maka ia mati syahid. Namun, barangsiapa dibunuh oleh musuh yang bersifat bathin (syaitan) maka ia terusir. Barangsiapa dikalahkan oleh musuh manusia biasa, maka ia akan mendapatkan pahala. Tetapi, barangsiapa dikalahkan oleh musuh yang bersifat bathin (syaitan), maka ia tertipu dan menanggung dosa. Oleh karena syaitan dapat melihat manusia sedangkan manusia tidak dapat melihatnya, maka manusia harus memohon perlindungan kepada Rabb yang melihat syaitan dan syaitan tidak melihat-Nya.

(Pasal) isti'aadzah berarti permohonan perlindungan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'aala dari kejahatan setiap yang jahat. Al-'iyaadzah adalah permohonan pertolongan dalam usaha menolak kejahatan, dan al-liyaadz adalah permohonan pertolongan dalam upaya meraih kebaikan.

Makna isti'aadzah


Maka a'uu-dzu billaahi minasy syai-thaanir rajiim adalah aku memohon perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk agar ia tidak membahayakan diriku dalam urusan agama dan duniaku, atau menghalangiku untuk mengerjakan apa yang Dia perintahkan atau menyuruhku mengerjakan apa yang Dia larang. Karena tidak ada yang mampu mencegah godaan syaitan itu dari manusia kecuali Allah.

Oleh karena itu, Allah Subhaanahu wa Ta'aala memerintahkan kepada manusia agar membujuk syaitan dari jenis manusia dan berbuat baik kepadanya, sehingga dapat merubah tabi'at dan kebiasaannya mengganggu orang lain. Tetapi, Allah memerintahkan agar kita memohon perlindungan kepada-Nya dari syaitan jenis jin. Karena dia tidak menerima pemberian dan tidak dapat dipengaruhi dengan kebaikan. Tabi'at mereka jahat dan tidak ada yang dapat mencegahnya dari dirimu kecuali Rabb yang telah menciptakannya.

Inilah makna yang terkandung dalam tiga ayat al-Qur-an, dimana aku tidak mengetahui ada ayat keempat yang semakna dengannya. Pertama, firman-Nya dalam surat al-A'raaf:

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang lain mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raaf: 199)

Makna di atas berkenaan dengan mu'amalah dengan musuh dari kalangan manusia.

Dilanjutkan dengan firman-Nya:

"Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-A'raaf: 200)

Sedangkan dalam surat al-Mu'-minuun Allah berfirman:

"Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah, "Ya Rabbku, aku berlindung kepada-Mua dari bisikan-bisikan syaitan. Dan aku berlindung (pula) kepada-Mu ya Rabbku, dari kedatangan mereka kepadaku." (QS. Al-Mu'-minuun: 96-98)

Dan dalam surat Fushshilat Allah berfirman:

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang di antara kami dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. Dan jika syaitan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Fushshilat: 34-36)

Penamaan syaitan


Dalam bahasa Arab, kata syaitan berasal dari kata sya-thana (شَطَنَ) yang berarti jauh. Jadi tabi'at syaitan itu sangat jauh dengan tabi'at manusia. Dan karena kefasikannya itu ia sangat jauh dari kebaikan.

Ada juga yang mengatakan bahwa kata syaitan itu berasal dari kata syaa-tha (شَاطَ)= terbakar, karena ia diciptakan dari api. Dan ada juga yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar, tetapi makna yang pertama lebih tepat.

Menurut Sibawaih, bangsa Arab mengatakan: "tasyai-thana fulaanun (تَشَيْطَنَ فُلَانٌ)", berarti si Fulan itu berbuat seperti perbuatan syaitan. Jika kata syaitan itu berasal dari kata syaa-tha tentunya mereka akan mengatakan: tasyai-tha. Maka menurut pendapat yang benar, kata syaitan itu berasal dari kata sya-thana yang berarti jauh. Oleh karena itu mereka menyebut syaitan untuk setiap pendurhaka baik dari kalangan jin, manusia maupun hewan. Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman:

"Dan demikianlah Kami jadikan tiap-tiap Nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)." (QS. Al-An'aam: 112)

Dalam Musnad al-Imam Ahmad, disebutkan sebuah hadits dari Abu Dzarr radhiyallaahu 'anhu, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Wahai Abu Dzarr, mohonlah perlindungan kepada Allah dari keburukan syaitan-syaitan dari jenis manusia dan jin.' Lalu aku bertanya: 'Apakah ada syaitan dari jenis manusia?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Ya, ada.'" (23)

Dan dalam Shahiih Muslim diriwayatkan sebuah hadits yang juga dari Abu Dzarr, ia berkata: "Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:

'Sesuatu yang dapat membatalkan shalat adalah wanita, keledai, dan anjing hitam.' Kemudian aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, mengapa anjing hitam, dan bukan anjing merah atau kuning?' Beliau Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 'Anjing hitam itu adalah syaitan.'" (24)

Ibnu Jarir meriwayatkan bahwasanya 'Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu 'anhu mengendarai kuda tarik, namun kuda itu berjalan pelan maka 'Umar pun memukulnya (supaya jalannya cepat). Namun kuda itu justru berjalan semakin pelan. 'Umar pun turun dan berkata: "Tidaklah kalian membawakan kepadaku kecuali syaitan. Aku turun darinya karena perasaanku merasa tak enak." Sanad-sanadnya shahih. (25)

Makna ar-Rajiim


Ar-rajiim berwazan "فَعِيْلٌ" (subyek) bermakna "مَفْعُوْلٌ" (obyek). Maknanya bahwa syaitan itu terkutuk dan terjauh dari segala kebaikan. Sebagaimana firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan." (QS. Al-Mulk: 5)

Allah Subhaanahu wa Ta'aala juga berfirman:

"Sesungguhnya Kami telah menghias langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap syaitan yang sangat durhaka, syaitan-syaitan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para Malaikat dan mereka dilempari dari segala penjuru. Untuk mengusir mereka dan bagi mereka siksaan yang kekal, akan tetapi barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pembicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang." (QS. Ash-Shaaffaat: 6-10)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap syaitan yang terkutuk. Kecuali syaitan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari Malaikat) lalu dia dikejar semburan api yang terang." (QS. Al-Hijr: 16-18)

Dan ayat-ayat lainnya.

Ada juga yang berpendapat bahwa "رَجِيْمٌ" bermakna "رَاجِمٌ".

Karena ia mengganggu manusia dengan waswas dan bisikan. Hanya saja makna yang pertama lebih masyhur dan lebih tepat.

===

(*) Shahih. Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 1457, at-Tirmidzi, tanpa kalimat wal Qur-aanul 'Azhiim, Ahmad no. 9781, 9789.

(1) Tuhfatul Ahwadzi 8/283. Lihat hadits lengkapnya diriwayatkan oleh Muslim no. 395, Abu Dawud no. 821, at-Tirmidzi no. 2953, an-Nasa-i no. 909, Ibnu Majah no. 3784, Ahmad no. 7289, 7823, dan lihat pula Shahiih at-Targhiib no. 1455.

(2) Fat-hul Baari 4/529. Hadits lengkapnya diriwayatkan oleh al-Bukhari no. 2276, at-Tirmidzi no. 2064. Lihat pula yang semisalnya yang diriwayatkan oleh Muslim no. 2201, Abu Dawud no. 3418, dan lihat kitab Irwaa-ul Ghaliil 6/12.

(3) Fat-hul Baari 8/6.

(4) Tafsiir ath-Thabari 1/107.

(5) HR. Ahmad 2/448. Komentar Syaikh Syu'aib al-Arnauth hafizhahullaah: "Sanadnya shahih, berdasarkan syarat periwayatan al-Bukhari dan Muslim." (Al-Musnad 15/489 no. 9788, cet. Ar-Risalah)

(6) Tafsiir ath-Thabari 1/107.

(7) Ahmad 4/211.

(8) Fat-hul Baari 8/6, 671. Al-Bukhari no. 4474, 4647, 4703, 5006.

(9) Abu Dawud 2/150, an-Nasa-i 2/139, dan Ibnu Majah 2/1244. Shahih: Abu Dawud no. 1458, an-Nasa-i no. 913, Ibnu Majah no. 3785. Dan lihat pula Shahiih at-Targhiib no. 1452.

(10) Fat-hul Baari 8/671. Al-Bukhari no. 5007, Muslim no. 2201.

(11) Muslim 1/296, dan an-Nasa-i dalam al-Kubra 5/12. Muslim no. 806(254), an-Nasa-i no. 912.

(12) Muslim 1/296 dan an-Nasa-i dalam al-Kubra 5/11, 12. Muslim no. 395, an-Nasa-i no. 909. Dan riwayat senada oleh Abu Dawud no. 821, at-Tirmidzi no. 2953, Ibnu Majah no. 3784, Ahmad no. 7289, 7823, dan lihat Shahiih at-Targhiib no. 1455.

(13) Fat-hul Baari 8/257. Al-Bukhari no. 4722.

(14) Fat-hul Baari 8/251 dan Muslim 1/439. Al-Bukhari no. 648, Muslim no. 649.

(15) Ahmad 2/250. Syaikh al-Arnauth hafizhahullaah berkata: "Sanadnya shahih berdasarkan syarat periwayatan Muslim." Dalam al-Musnad 13/232 no. 7836, cet. Ar-Risalah.

(16) Fat-hul Baari 2/276 dan Muslim 1/295. Al-Bukhari no. 756, Muslim no. 394.

(17) Ibnu Khuzaimah 1/248 dan Ibnu Hibban 3/139.

(18) Ahmad 3/69, Abu Dawud 1/490, dan Tuhfatul Ahwadzi 2/47, an-Nasa-i 2/132 dan Ibnu Majah 1/264. Shahih: Abu Dawud no. 775, at-Tirmidzi no. 242, an-Nasa-i no. 900, Ibnu Majah no. 804. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam kitabnya Shahiih Sunan Abi Dawud no. 701.

(19) Abu Dawud 1/486 dan Ibnu Majah 1/265. Dha'if: Abu Dawud no. 764, Ibnu Majah no. 806. Lihat al-Irwaa' 2/54.

(20) Ibnu Majah 1/264. Shahih: Ibnu Majah no. 808. Lihat kitab al-Irwaa' 2/55.

(21) An-Nasa-i dalam al-Kubra no. 10233.

(22) Fat-hul Baari 6/388, Muslim 4/2015, Abu Dawud 5/140, an-Nasa-i dalam al-Kubra 6/104.

(23) Ahmad 5/178. Dha'if: Ahmad meriwayatkannya dengan dari dua jalan. Salah satunya dari jalan al-Mas'udi. Al-Haitsami mengatakan: "Dia adalah seorang yang tsiqah (terpercaya), akan tetapi hafalannya bercampur (kacau). Kedua adalah dari jalan 'Ali bin Yazid dan dia dha'if. Sebagaimana disebutkan dalam Majma'uz Zawaa-id 1/214-215.

(24) Muslim 1/365. Lihat Shahiih Muslim no. 510 dan Sunan Abi Dawud no. 702.

(25) Tafsiir ath-Thabari 1/111.

===

Maraji'/ sumber: http://baitulkahfitangerang.blogspot.co.id/search/label/shahih%20tafsir%20ibnu%20katsir%20jilid%201

===

Baca juga:

Tafsir Surat al-Faatihah Ayat 1

Inilah tafsir al-Faatihah secara umum oleh Ibnu Katsir rahimahullaah, selanjutnya akan ditafsir secara khusus setiap ayat. Kami tulis ulang dari kitab Shahih Tafsir Ibnu Katsir dalam blog Tafsir al-Fatihah Ibnu Katsir.